Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pameran ROOTS, Mengenang Keberadaan dan Pengaruh Walter Spies di Bali

Marsellus Pampur • Minggu, 20 April 2025 | 00:51 WIB
KETERANGAN PERS: Yudha Bantono selaku Project Manager pameran (kanan) dan Made Bayak salah satu seniman dalam ROOTS di Denpasar (19/4/2025). (Marsellus Pampur/Radar Bali)
KETERANGAN PERS: Yudha Bantono selaku Project Manager pameran (kanan) dan Made Bayak salah satu seniman dalam ROOTS di Denpasar (19/4/2025). (Marsellus Pampur/Radar Bali)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com -Dalam rangka seratus Tahun Walter Spies di Bali, Kulturstiftung Basel H. Geiger yang merupakan yayasan budaya terkemuka yang didedikasikan untuk membina pengalaman artistik yang inovatif dan menggugah pikiran menggelar pameran bertajuk ROOTS.

Pameran ini juga memunculkan sosok luar biasa, yakni Michael Schindhelm adalah seorang penulis, pembuat film, kurator, dan konsultan budaya kelahiran Jerman-Swiss. Dia akan menggelar pameran dan pemutaran film. 

Pameran ini akan digelar di Museum Arma, Ubud, Gianyar pada tanggal 24 Mei hingga 14 Juni 2025. Yudha Bantono selaku Project Manager dari pameran ini menjelaskan duangkatnya sosok Walter Spies dalam pameran ini karena dia memiliki pengaruh besar dalam landscape budaya Bali. 

”Pameran ROOTS adalah pameran yang berpusat pada pembicaraan dari sosok seniman Jerman kelahiran Rusia Walter Spies (1895 – 1942), di mana pengaruhnya terhadap lansekap budaya Bali masih terasa hingga kini. Warisan Spies sangat terkait erat dengan narasi kontemporer Bali," katanya di Denpasar, Sabtu (19/4/2/2025).

Dia menjelaskan, pameran ROOTS memiliki tujuan untuk menunjukkan pengaruh Spies yang mendalam, sambil menjelajahi warisan pascakolonial Pulau Dewata selama seabad terakhir.

Menurut dia, di jantung presentasi ROOTS terdapat Villa Iseh. Dimana villa ini merupakan tempat peristirahatan yang dibangun oleh Walter Spies pada tahun 1937 di Iseh, Karangasem.

Villa ini awalnya merupakan tempat perlindungan bagi Spies, tempat ini kemudian menjadi tujuan untuk disinggahi dan tinggal dalam sementara waktu bagi orang-orang kaya dan terkenal, termasuk David Bowie, Yoko Ono, dan Mick Jagger.

”Pameran ini kehadirannya juga akan membahas tema-tema tentang pariwisata massal, degradasi lingkungan, dan interaksi yang kompleks tentang identitas budaya di Bali," bebernya. 

Cuplikan dari film dokumenter fiksi ROOTS karya Michael Schindhelm juga akan ada dalam pameran ini. Film ini menampilkan Walter Spies sebagai sosok yang menghantui lansekap modern Bali.

Melalui pertemuan dengan seniman dan tokoh terkemuka Bali, hantu Spies bergulat dengan warisan budaya Bali sendiri dan adanya dampak abadi peradaban Barat di pulau Bali.

”Pengunjung akan diundang untuk menemaninya dalam perjalanannya melintasi pulau saat ini, 99 tahun setelah kunjungan pertama sang pelukis," urainya.

Dua seniman Bali juga akan terlibat dalam pameran ini. Mereka adalah Made Bayak dan seniman grafis Gus Dark, kedua seniman ini mengeksplorasi perjuangan masyarakat Bali untuk melestarikan identitas budaya di tengah tantangan kontemporer.

Bersama dengan serangkaian kemasan film dan instalasi, mereka akan menyajikan momen-momen penting dalam sejarah Bali, termasuk genosida tahun 1965.

Made Bayak mengatakan, selain lukisan dan karya flgrafis, pameran ini juga akan menampilkan karya patung dan instalasi.

”Karya-karya ini pada intinya mengkritisi situasi yang terjadi saat ini, mulai dari isi sosial, politik dan isu lingkungan," pungkas pria yang juga seorang musisi ini.

Sementara itu, Michael Schindhelm mengatakan, pameran Roots dan dokumenter yang berjudul sama, harus dipahami sebagai proyek memori kolektif dalam membahas aspek penting sejarah pascakolonial Bali: pengaruh budaya modern Barat terhadap tradisi budaya Bali.

Di mana aejarah Walter Spies yang penuh gejolak di Pulau Bali dan dampaknya terhadap transformasi Bali, selanjutnya berkembang menjadi destinasi wisata global dapat dipahami sebagai ‘warisan bersama’.

”Kehadiran ROOTS dengan para tokoh utama budaya Bali saat ini, berupaya menempatkan warisan yang ditinggalkan Walter Spies dalam konteks sejarahnya dan sekaligus memahami signifikansinya terhadap perkembangan Bali saat ini," tandasnya. 

Film dokumenter fiksi ROOTS karya Michael Schindhelm akan ditayangkan di berbagai lokasi di Bali, antara tanggal 21 Mei sampai 14 Juni.

Film ini akan ditutup dengan pemutaran secara khusus dan serangkaian kegiatan seremonial dalam pemberian penghargaan bagi pelajar yang memenangkan kompetisi mengulas film, yang akan diselenggarakan pada tanggal 14 Juni di Museum Arma, Ubud. (mar)

Editor : Rosihan Anwar