Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Diskusi dengan Penonton Film Sore di Sanur: Yandy dan Sheila Dara Kaget Ada Warga Bali Menonton Sampai 17 Kali

Ni Kadek Novi Febriani • Selasa, 12 Agustus 2025 | 00:05 WIB
DIALOG LANGSUNG DENGAN PEMBUATNYA: Diskusi film Sore di Artotel, Sanur . (Foto: Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)
DIALOG LANGSUNG DENGAN PEMBUATNYA: Diskusi film Sore di Artotel, Sanur . (Foto: Ni Kadek Novi Febriani/Radar Bali)

 

Sudah sebulan film Sore, Istri  Dari Masa Depan    diputar di bioskop dan kini telah ditonton sebanyak 2,9 juta lebih.  Banyak penonton yang merasa terwakili emosinya dengan film yang berdurasi hampir 120 menit yang disutradarai oleh Yandy Laurens itu.

SALAH seorang warga dari Klungkung, bernama Meydi, mengaku sudah menonton 17 kali. Ia terhanyut dengan film yang diperankan oleh Sheila Dara Aisha itu.

Meydi bercerita apa yang dirasakan saat acara pertemuan dengan sutradara Yandy Laurens, aktris Sheila Dara Aisha, dan produser Suryana Paramitha di Artotel, Sanur, Minggu (10/8/2025) sore.

Diskusi film Sore. (ni kadek novi febriani)
Diskusi film Sore. (ni kadek novi febriani)

"Saya sudah 17  kali menonton film sejak tayang. Merasa relate dan baru saya sadari sama seperti Jonathan (tokoh utama) yang diperankan Dion Wiyoko merasa longing," ungkap Meydi.

Pengakuan Meydi membuat kaget banyak pihak termasuk yang membuat cerita tersebut.  Film yang syutingnya di tiga negara, yakni di Kroasia, Finlandia dan Indonesia  hidup  dalam ingatan penontonnya.

Mereka yang hadir telah menonton film tersebut, tidak hanya terhibur dari pemeran dan sinematiknya, tapi  juga memberikan pesan mendalam. 

Dengan duduk sejajar , Yandy, Mitha dan Sheila bertukar pikiran dengan penonton, mereka berbagi cerita begitu juga yang .

Sebelum pertemuan di Artotel Sheila, Yandy dan Mita sempat datang ke bioskop di Sanur.

Yandy menceritakan, Sore berawal dari serial web tahun 2017. Sebuah karya personal tentang cinta dan waktu. Versi layar lebarnya ia sebut sebagai “gelas besar” yang menampung emosi lebih luas.

Dengan konsep time travel paduan romansa dan fiksi ilmiah,  Yandy tidak berekspektasi filmya itu akan meledak dan ditonton jutaan pasang mata.

 “Cerita sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Penonton merasa punya ruang untuk melihat diri mereka sendiri,” ujar sutradara jebolan IKJ, Jakarta ini.

Bagi produser Suryana Paramitha, capaian itu adalah buah dari keyakinan semua pihak terhadap kekuatan cerita.

“Terkadang cinta membuat kita melakukan hal-hal luar biasa tanpa sadar. Film ini adalah salah satunya,” katanya.Sheila Dara menambahkan, perannya momen-momen kecil setiap harinya.”sebagai Sore mengajarkannya menghargai.

Jayanthi Pemayun dan Kalpika, penggagas acara, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar agenda promosi. “Kami ingin memberi ruang intim bagi penonton untuk mengenal para kreator lebih dekat,” ujar Jayanthi.

Kalpika menyambungkan, kalau film  yang baik bukan hanya hidup di layar, tapi juga di ingatan dan percakapan.

Malam itu, SORE kembali mengukuhkan dirinya: bukan hanya kisah cinta, melainkan pengingat bahwa kehilangan dan melepaskan pun dapat dirayakan dengan indah. Acara ditutup dengan foto bersama seluruh penonton dan tim produksi tanpa gemerlap berlebihan,namun menyisakan hangat yang sukar dilupakan. [*]

Editor : Hari Puspita
#film #Film sore 2025 #bioskop #nonton bareng