Sudah sebulan film Sore, Istri Dari Masa Depan diputar di bioskop dan kini telah ditonton sebanyak 2,9 juta lebih. Banyak penonton yang merasa terwakili emosinya dengan film yang berdurasi hampir 120 menit yang disutradarai oleh Yandy Laurens itu.
SALAH seorang warga dari Klungkung, bernama Meydi, mengaku sudah menonton 17 kali. Ia terhanyut dengan film yang diperankan oleh Sheila Dara Aisha itu.
Meydi bercerita apa yang dirasakan saat acara pertemuan dengan sutradara Yandy Laurens, aktris Sheila Dara Aisha, dan produser Suryana Paramitha di Artotel, Sanur, Minggu (10/8/2025) sore.
"Saya sudah 17 kali menonton film sejak tayang. Merasa relate dan baru saya sadari sama seperti Jonathan (tokoh utama) yang diperankan Dion Wiyoko merasa longing," ungkap Meydi.
Pengakuan Meydi membuat kaget banyak pihak termasuk yang membuat cerita tersebut. Film yang syutingnya di tiga negara, yakni di Kroasia, Finlandia dan Indonesia hidup dalam ingatan penontonnya.
Mereka yang hadir telah menonton film tersebut, tidak hanya terhibur dari pemeran dan sinematiknya, tapi juga memberikan pesan mendalam.
Dengan duduk sejajar , Yandy, Mitha dan Sheila bertukar pikiran dengan penonton, mereka berbagi cerita begitu juga yang .
Sebelum pertemuan di Artotel Sheila, Yandy dan Mita sempat datang ke bioskop di Sanur.
Yandy menceritakan, Sore berawal dari serial web tahun 2017. Sebuah karya personal tentang cinta dan waktu. Versi layar lebarnya ia sebut sebagai “gelas besar” yang menampung emosi lebih luas.
Dengan konsep time travel paduan romansa dan fiksi ilmiah, Yandy tidak berekspektasi filmya itu akan meledak dan ditonton jutaan pasang mata.
“Cerita sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Penonton merasa punya ruang untuk melihat diri mereka sendiri,” ujar sutradara jebolan IKJ, Jakarta ini.
Bagi produser Suryana Paramitha, capaian itu adalah buah dari keyakinan semua pihak terhadap kekuatan cerita.
“Terkadang cinta membuat kita melakukan hal-hal luar biasa tanpa sadar. Film ini adalah salah satunya,” katanya.Sheila Dara menambahkan, perannya momen-momen kecil setiap harinya.”sebagai Sore mengajarkannya menghargai.
Jayanthi Pemayun dan Kalpika, penggagas acara, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar agenda promosi. “Kami ingin memberi ruang intim bagi penonton untuk mengenal para kreator lebih dekat,” ujar Jayanthi.
Kalpika menyambungkan, kalau film yang baik bukan hanya hidup di layar, tapi juga di ingatan dan percakapan.
Malam itu, SORE kembali mengukuhkan dirinya: bukan hanya kisah cinta, melainkan pengingat bahwa kehilangan dan melepaskan pun dapat dirayakan dengan indah. Acara ditutup dengan foto bersama seluruh penonton dan tim produksi tanpa gemerlap berlebihan,namun menyisakan hangat yang sukar dilupakan. [*]
Editor : Hari Puspita