Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Patung Bambu “Octopus Quenn” Karya I Ketut Putrayasa Raih Rekor MURI, Usia Patung Diprediksi hanya 10 Tahun

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 26 September 2025 | 22:35 WIB
KARYA SENI: I Ketut Putrayasa  (kanan) dan pihak MURI yang menyerahkan piagam rekor
KARYA SENI: I Ketut Putrayasa (kanan) dan pihak MURI yang menyerahkan piagam rekor

KLUNGKUNG, radarbali.jawapos.com  – Berdiri sebuah patung megah  berbahan bambu setinggi 25 meter di pinggir laut  Broken Beach, Desa Sakti, Nusa Penida, tepatnya di Penida Swing Park.

Lebar patung dengan lebar 12 meter yang diberi nama “Octopus Queen” (Ratu Gurita) ini resmi mencatatkan diri dalam Rekor MURI sebagai patung bambu terbesar, tertinggi, dan terindah di Indonesia.

Karya itu dibuat oleh I Ketut Putrayasa ,  Ia menuturkan, pemilihan lokasi bukan kebetulan, melainkan hasil riset panjang. Menurutnya, secara kosmologi ruang, tebing Broken Beach yang berlatarkan Samudera Hindia adalah tempat paling tepat untuk melahirkan karya monumental itu.

 Baca Juga: Waspada Gempa Bumi! Usai Gempa Banyuwangi, Ingat Ada TIGA KUNCI Keselamatan dari BMKG

“Tempat ini sudah indah, tapi dengan patung ini, lanskapnya menjadi menyatu. Kehadirannya melengkapi dan memberi jiwa pada ruang,” ujar Putrayasa, disela penugrahan Rekor Muri, di Nusa Penida,  Kamis (25/9/2025).

Gurita dipilih karena dianggap sebagai salah satu makhluk laut paling cerdas dan memiliki sembilan otak yang dapat bekerja serempak. Bagi Putrayasa, gurita melambangkan kecerdasan, ketangguhan, sekaligus kemampuan beradaptasi menghadapi tantangan.

Dalam karyanya, sang ratu gurita digambarkan memegang bunga teratai, yang dimaknai sebagai simbol harapan.

“Setiap hari kita hidup dengan harapan. Harapan itu yang harus dijaga, sama seperti masyarakat Nusa Penida yang harus tangguh, tahan banting, dan tetap menjaga kebersamaan,” jelas pematung berusia 43 tahun ini.

Proses pembuatannya  menghabiskan waktu lima bulan dengan melibatkan hampir 400 orang dari berbagai desa. Sekitar enam truk penuh bambu tali—jenis bambu yang lentur dan fleksibel—didatangkan dari Bangli untuk membentuk struktur patung. Demi ketahanan terhadap angin laut yang ekstrem, kerangka utamanya diperkuat dengan baja.

“Ini kerja kolektif, gotong royong. Dari memotong, memecah, hingga menyusun puluhan ribu bambu. Nilai kebersamaan itulah yang saya tonjolkan, karena seni sejati tidak pernah lahir dari individualisme,” ujar Putrayasa.

Meski berstatus rekor, Putra Yasa menyadari  patung bambu ini bukanlah karya abadi. Umurnya diperkirakan hanya sekitar satu dekade. Namun, ia percaya yang abadi bukanlah material, melainkan memori dan makna yang ditinggalkan.

 Baca Juga: Nusantara International Folklore Festival 2025 : Memikat dengan Ratusan Peserta dan Antusiasme Penonton

“Karya ini akan monumental dalam ingatan orang. Bahkan ketika kelak hilang, masyarakat akan merasa ada yang kurang di tempat ini,” ungkapnya.

Dengan biaya pembuatan mencapai miliaran rupiah, Octopus Queen kini menjadi ikon baru Nusa Penida, sekaligus pengingat agar pariwisata tetap berbasis budaya dan selaras dengan alam.

“Patung ini bukan sekadar instalasi seni, tapi juga alarm. Jangan sampai Nusa Penida mengulang kesalahan Bali—mengorbankan ruang hijau demi beton. Bunga teratai di tangan Ratu Gurita adalah simbol agar kita selalu menjaga harapan dan masa depan,” tutupnya.

 Baca Juga: Goodbye 2025! Ini Tren Outfit of The Day Pesta Akhir Tahun

Karya monumental ini kini terbuka untuk umum. Dengan latar Samudera Hindia yang megah, Octopus Queen bukan hanya memperkaya lanskap Nusa Penida, tetapi juga menghadirkan narasi baru tentang seni, kebersamaan, dan harapan untuk masa depan.

Sementarq  itu  Yusuf Ngadri  selaku Direktur Operasional MURI mengungkapkan, karya ini telah dilakukan proses yang matang hingga mencatatkan keputusan mendapatkan rekor MURI.” 

Karya seniman I Ketut Putrayasa benar – benar  menjadi  ikon di kawasan Nusa Penida ini, karya ini simbol kekuatan kecerdasan, karya Putrayasa merepresentasikan pesan hanya yang kuat yang bertahan, dengan karya instalasi anyaman bambu termegah, maka kita putuskan Octupus Queen ini tercatat sebagai rekor MURI Patung Anyaman Bambu Instalasi Terbesar di Indonesia ,” ucapnya.***

Editor : M.Ridwan
#I Ketut Putrayasa #rekor muri #octupus quenn #patung bambu #radarbali