Terbilang sukses dengan pameran tunggal "Mutualisme", Agustus 2025 lalu, perupa muda berbakat Lie Ping Ping Kembali unjuk karya. Kali ini, ia hadir dengan tajuk pameran yang cukup membuat kerut dahi: "Beladjar Kentjing".
KARYA-KARYA yang digelar di Warung BK, Jalan Kenyeri, Denpasar, ini bukan sekadar pameran biasa. Melalui judul yang terdengar nyeleneh dan sedikit "nakal", seniman bernama asli Adhe Kurniawan ini menyimpan kritik sosial yang tajam dan mendalam.
"Judul ini terinspirasi dari sindiran masyarakat: 'Kamu tahu apa? Kencing saja belum lurus, sudah banyak tingkah'. Ini adalah sebuah satire untuk mereka yang secara biologis sudah dewasa, namun mentalnya masih kanak-kanak," ujar Ping Ping saat ditemui di Denpasar, Senin (22/12/2025).
Diksi "Jorok" di Ruang Makan Pemilihan diksi "Kentjing" diakui Ping Ping memang sengaja dibuat untuk memancing respons beragam. Terlebih, karya-karya ini dipajang di sebuah tempat makan, sebuah kontras yang cukup berani.
Menurut pemuda kelahiran 1989 ini, perspektif penikmat seninya justru menjadi lebih luas. Ada yang menganggapnya sebagai sindiran terhadap kebodohan, namun ada pula yang melihatnya sebagai ajakan introspeksi diri—bahwa hal alamiah seperti buang air kecil pun butuh pengendalian diri agar tidak mengotori lingkungan.
Emas Tetaplah Emas
Perlawanan Terhadap Dominasi Galeri Selain soal judul, pemilihan lokasi pameran di Warung BK menjadi bentuk "pemberontakan" halus alumnus ISI Denpasar ini terhadap sistem industri seni saat ini. Di pameran yang berlangsung hingga 14 Januari 2026 ini, Ping Ping memamerkan 13 karya dengan ukuran mulai dari 30x40 cm hingga 1x1 meter.
Bagi Ping Ping, memamerkan karya di warung adalah sebuah pernyataan sikap. Ia ingin mendobrak stigma bahwa karya seni hanya "sah" jika dipajang di galeri mewah dengan dinding putih bersih.
"Bagi saya, ini perlawanan. Fakta di lapangan, banyak seniman dijerat potongan komisi galeri yang semakin mencekik. Saya ingin membuka ruang kemungkinan bahwa pameran bisa di mana saja," tegasnya.
Ia menganalogikan karyanya dengan filosofi yang kuat. "Karya seni membawa nilainya sendiri. Seperti emas, meski dilemparkan ke kotoran, sejatinya ia tetaplah emas," pungkas Ping Ping. [*]
Editor : Hari Puspita