Bagi banyak orang, mimpi hanyalah bunga tidur. Namun bagi Ricky Bambang Sudibjo Salim, sebuah mimpi menjadi titik balik yang mengubah garis hidupnya dari seorang fotografer terkemuka menjadi seorang perupa yang penuh daya pikat.
SOSOK seniman kelahiran di Surabaya, 18 Januari 1972, nama Ricky awalnya besar di dunia fotografi. Namun, sebuah pengalaman spiritual atau pawisik yang dialaminya beberapa tahun lalu mengubah segalanya.
Dalam tidurnya, ia seolah mendapat perintah nyata untuk melukis setelah diperlihatkan karya fenomenal Leonardo da Vinci, The Last Supper (Perjamuan Terakhir).
"Saya bermimpi, dan itu seperti nyata sebagai sebuah perintah agar saya mulai melukis. Di mimpi saya itu ditunjukkan lukisan fenomenal The Last Supper," kenang Ricky saat ditemui di Denpasar, Jumat (26/12/2025).
Awalnya, Ricky sempat mengabaikan mimpi tersebut. Namun, dorongan yang sama kembali hadir saat ia melakukan doa pagi. Sejak saat itulah, ia memantapkan hati untuk belajar melukis secara formal melalui Milan Art Institute secara daring.
Menembus Batas Buta Warna
Langkah Ricky menjadi seniman lukis bukannya tanpa hambatan. Di balik keindahan warna-warni kanvasnya, Ricky ternyata seorang penyandang buta warna parsial.
Namun, keterbatasan fisik itu justru menjadi bumbu unik dalam proses kreatifnya. Ia mengubah tantangan visual menjadi kekuatan spiritual, di mana setiap goresan kuasnya dianggap sebagai 'Panggilan Ilahi' dan bentuk perjalanan iman sebagai penganut Kristen.
Gairah baru ini melahirkan Carrot Card, sebuah kartu seni yang memadukan visual lukisan dengan pesan-pesan reflektif. Nama 'Carrot' sendiri diambil sebagai permainan kata dari 'Tarot', namun dengan isi yang fokus pada kabar suka cita dan refleksi diri.
Kini, karya-karya Ricky mulai menjadi magnet bagi para kolektor seni. Pengamat seni sekaligus mantan jurnalis budaya Majalah Matra, Hartanto, menilai karya Ricky memiliki kedalaman yang jarang ditemukan.
”Di sana ada olahan intelektual dan spiritual. Pesannya menjadi lebih mudah dipahami publik yang cenderung visual,” ujar Hartanto. Menurutnya, meski didasari nilai spiritualitas agama tertentu, proses kreatif Ricky bersifat universal. “Ricky menemukan medium ekspresinya lewat visual yang sangat kuat,” tambahnya.
Bagi Ricky, melukis bukan sekadar memindahkan warna ke atas kanvas, melainkan cara ia mengabarkan harapan dan kedamaian kepada dunia—membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak akan mampu menghalangi pesan yang datang dari hati.[*]
Editor : Hari Puspita