Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Penutupan Jogja International Art Festival 2025 (JIAF25): Jadi Panggung Gema Triniti Art Sam Sianata

Rosihan Anwar • Senin, 5 Januari 2026 | 19:43 WIB
Sejumlah pengusaha foto bareng di tengah karya Sam Sianata.
Sejumlah pengusaha foto bareng di tengah karya Sam Sianata.

JOGJA, radarbali.jawapos.com - Penutupan Jogja International Art Fair 2025 (JIAF25) pada tanggal 2 Januari 2026 atau tiga hari lalu menjelma menjadi panggung gema Trinity Art Liem Sian An, menandai hadirnya karya multi artform masterpiece yang dikenalkan oleh "maestro satu triliun" Sam Sianata (Liem Sian An) kepada publik Jogja.

Karya tersebut tidak berhenti di ruang pamer, tetapi berlanjut sebagai ingatan kolektif dan wacana seni bernilai historis.

Pada momentum penutup perhelatan yang diikuti oleh 224 seniman Indonesia dan mancanegara dengan 835 karya ini, Trinity Art tampil sebagai penanda kuat bahwa seni memiliki daya hidup melampaui kanvas—ia berbicara tentang nilai, spiritualitas, dan peradaban.

Wakil Wali Kota Jogja Bapak Wawan Harmawan sedang menerima penjelasan tentang Trinity Art.
Wakil Wali Kota Jogja Bapak Wawan Harmawan sedang menerima penjelasan tentang Trinity Art.

Karya-karya Liem Sian An (Sam Sianata) tidak sekadar ditonton, melainkan dirasakan sebagai pengalaman batin yang mengajak publik merenungi makna persaudaraan, harmoni, dan kesadaran kebangsaan.

Trinity art adalah gabungan karya seni lukis (lukisan), karya seni musik (lagu) dan karya seni kreatif (maskot) dalam satu kesatuan tema merupakan semesta seni satu-satunya di dunia yang ditampilkan dalam perhelatan JIAF 25 ini sehingga menarik antusias para seniman, kolektor, kurator dan masyarakat pecinta seni yang berkunjung di Jogja Expo Center tanggal 31 Desember 2025 sampai 2 Januari 2026.

Gema Trinity Art terasa kian kuat karena kehadirannya berada pada simpul waktu yang tepat: saat pameran mencapai klimaks dialog estetik antara seniman, kolektor, kurator, dan masyarakat luas. 

Di titik ini, lukisan tidak lagi berdiri sebagai objek visual semata, melainkan menjelma simbol—sebuah bahasa nilai yang menyatukan dimensi estetika, spiritual, dan sosial.

Jogja International Art Fair 2025 pun ditutup bukan dengan kesunyian akhir, tetapi hadir dengan resonansi baru,makna yang dalam melahirkan arena percakapan seni kontemporer Indonesia.

Melalui Trinity Art, Liem Sian An menegaskan posisi seni sebagai diplomasi lunak (soft diplomacy) kebudayaan: membangun wibawa, merawat ingatan kolektif, dan memperpanjang napas peradaban sekaligus menegaskan bahwa bangsa Indonesia mampu menjadi pelopor aliran seni,bukan sekedar pengekor selama ini.

Penutupan ini menjadi penanda bahwa pameran boleh berakhir, namun gema karya—beserta nilai yang dikandungnya—akan terus bergulir, melampaui ruang dan waktu dari Indonesia ke mancanegara. (msk)

Editor : Rosihan Anwar
#JIAF #Sam Sianata