Bayangkan tangan-tangan yang terbiasa memahat kayu pule atau batu padas yang hangat di bawah matahari tropis Bali, tiba-tiba harus menggenggam gergaji dan pahat di tengah badai salju. Mereka harus berkarya di Tengah suhu ekstrem minus 26 derajat Celsius.
ITULAH perjuangan I Nyoman Sungada dan timnya, para ksatria seni dari Himpunan Seniman Pecatu (HSP) dan Bali Talent Artist (BTA), saat mengadu taji di The 28th China Harbin International Snow Sculpture Competition, 6-9 Januari lalu.
Membawa nama Indonesia di pundak, enam pria pemberani ini terbang ke utara Tiongkok bukan sekadar untuk jalan-jalan, melainkan untuk mengukir sejarah di atas blok salju raksasa setinggi 4 meter.
Mereka ada enam orang. Antara lain: I Nyoman Sungada (kapten tim pematung), I Ketut Suaryana (pematung), Gede Agus Kurniawan (pematung), I Gede Agustin Anggara Putra (pematung), I Made Gede Aryata (fotografer), dan I Wayan Mardina (peninjau).
Sung membeberkan, persiapan lomba makan waktu 3 bulan. Dari Oktober 2025, setelah menerima undangan.
Melawan Dingin yang Menusuk Tulang hingga Hidung Bisa Berdarah
Bagi Nyoman Sungada—yang akrab disapa Mr. Sung—dingin di Harbin bukan sekadar angka. Itu adalah ancaman fisik yang nyata. Selama empat hari, selama sepuluh jam setiap harinya, mereka bertarung melawan cuaca yang bisa membuat bibir pecah-pecah hingga hidung berdarah.
"Jika persiapan tidak maksimal, taruhannya adalah kesehatan. Cuaca di sana rata-rata minus 14 hingga 26 derajat," kenang Mr. Sung, yang juga dikenal sebagai salah satu penari Kecak di Pura Luhur Uluwatu.
Tak main-main, amunisi yang mereka bawa dari Bali bernilai fantastis. Pahat parutan, gergaji besar, hingga peralatan khusus senilai Rp 75 juta dipersiapkan sejak Oktober 2025.
Uniknya, sebagian alat tersebut merupakan kreasi orisinal hasil utak-atik seniman Bali sendiri untuk menaklukkan karakteristik salju Tiongkok yang berbeda dengan media pahat biasanya.
Filosofi di Balik Jemari Beku
Di tengah hamparan putih Harbin, sebuah sosok agung perlahan muncul dari bongkahan salju. Mereka memahat "Dewi Dewantari", sang simbol kesuburan dan keseimbangan alam semesta.
Setiap lekuk pahatan adalah doa. Tangan kanan sang Dewi membawa daun sebagai pengingat keterikatan manusia dengan alam. Tangan lainnya membawa guci tirtha amertha (air suci keabadian), uang kepeng sebagai simbol kesejahteraan, hingga bunga teratai lambang kesucian.
Tak lupa, sosok bayi yang digendong menjadi pengingat filosofis tentang siklus penciptaan: bahwa hidup dan mati adalah kepingan koin yang tak terpisahkan.
Sebelum berangkat, mereka hanya berlatih menggunakan styrofoam kecil. Namun di Harbin, imajinasi itu harus diledakkan menjadi karya raksasa yang presisi.
Drama "Tersesat" dan Pelukan Kemenangan
Di balik megahnya karya seni, terselip cerita jenaka nan mendebarkan. Mr. Sung mengisahkan suatu malam saat kompetisi berlangsung, ia sempat tersesat saat mencari toilet.
Di tengah sunyi dan dingin yang mencekam, ia mencoba bertanya pada seorang wanita lokal, namun sang wanita justru lari ketakutan—mungkin melihat sosok Mr. Sung yang terbungkus jaket tebal layaknya makhluk asing.
"Beruntung ada empat orang lewat yang mau mengantar saya kembali ke lokasi lomba. Rasanya napas langsung lega," ceritanya sambil terkekeh.
Perjuangan itu berbuah manis. Dari 25 tim yang mewakili 13 negara, Indonesia sukses menyabet Juara 3. Bagi Mr. Sung, ini adalah podium kesekian kalinya dalam rekam jejaknya yang luar biasa.
Sejak 2013, ia telah belasan kali mengharumkan nama bangsa di ajang pahat es internasional, mulai dari Sapporo dan Nayoro di Jepang, hingga langganan juara di Harbin.
"Bahagia itu pasti, meski juara tiga. Tapi yang utama adalah kebanggaan bisa bertukar budaya melalui pahatan salju. Meski bahasa kami berbeda, seni berbicara dengan caranya sendiri," pungkas Mr. Sung penuh syukur.
Kini, "Dewi Dewantari" mungkin telah perlahan mencair seiring bergantinya musim di Harbin. Namun, jejak dingin yang diukir dengan hangatnya semangat seniman Bali ini akan tetap abadi dalam catatan prestasi dunia.[djoko heru setiyawan/dra]
Editor : Hari Puspita