Ada yang berbeda dari album terbaru Lolot bersama grup bandnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah diskografi mereka, pemilik nama Made Bawa alias Lolot (vokal/gitar), Donnie Lesmana (gitar), Hendra (drum), dan Lanang atau Mr. Botax (bass) ini merilis lagu berbahasa Indonesia.
KALI ini memang terasa beda. Lagu berbahasa Indonesia tersebut bertajuk Cerita Kita. Karya eksperimental ini menjadi satu dari enam amunisi baru yang dikemas Lolot dalam album ke-11 mereka yang diberi judul Tajir Melintir.
Nah, menariknya, album fisik ini resmarsellus pampurmi dilepas ke publik dalam format kepingan VCD.
Saat ditemui di Denpasar beberapa hari lalu, sang vokalis, Made Bawa, mengungkapkan bahwa tema besar dalam album ini tidak bergeser jauh dari potret kehidupan sehari-hari dan romansa percintaan.
”Secara umum, temanya masih sama dengan album-album sebelumnya," tutur Lolot.
Baca Juga: Lolot-Tiari Bintang: Tato Bukan Hal Buruk, Bentuk Musisi untuk Mengekspresikan Diri
Bagi para personel, album ke-11 ini merupakan tonggak sejarah penting penanda 22 tahun perjalanan Lolot di belantika musik.
Lolot ingin membuktikan bahwa bertambahnya usia band bukan menjadi alasan untuk redup, melainkan bukti bahwa mereka tetap solid dan produktif menelurkan karya.
Baca Juga: Lanang Mr Botax dan Lolot: Pemimpin Visioner dan Bisa Menghibur Pasti Disukai Semeton
Resep Awet: Harmoni di Meja Makan
Lantas, apa rahasia band rock papan atas Bali ini bisa bertahan hingga puluhan tahun tanpa bongkar pasang personel yang berarti? Lanang Botax memiliki jawaban yang unik.
Ia membeberkan bahwa selama ini mereka hampir tidak pernah mengalami konflik serius karena selalu membiarkan band berjalan secara natural.
Baca Juga: Wadahi Kreativitas Mahasiswa STISPOL Wira Bhakti, ‘Wira Bhakti Music Concert’ Hadirkan Lolot Band
Menariknya lagi, mereka punya ruang khusus yang sangat merakyat untuk meramu karya atau menyelesaikan selisih paham: meja makan.
Lanang Botax, yang memang dikenal hobi memasak dan memiliki warung kuliner khas Bali, kerap menjadi "tuan rumah" diskusi mereka.
”Kami bicara karya lebih serius pasti di meja makan. Misalnya pas makan siang, dan di sana selalu ketemu titik terang. Pasti ada jalan keluar," ungkap Lanang sembari tersenyum.
Senada dengan Lanang, sang gitaris Donnie Lesmana menambahkan bahwa kunci utama kekompakan mereka selama dua dekade ini adalah tingginya rasa empati antar-personel.
”Kami lebih ke saling mendengar dan saling pengertian saja, sehingga band kami masih bisa terus berkarya sampai sekarang," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita