Nikmati Wisata Seni di Korea Selatan Tanpa Kendala Bahasa, SeMA Siapkan Pemandu Berbahasa Indonesia

Maulana Sandijaya • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:37 WIB
MENIKMATI KARYA SENI: Salah seorang wisatawan asing sedang menikmati seni lukis di Seoul Museum of Art, Korea Selatan. Sumber Foto: Seoul Museum of Art.
MENIKMATI KARYA SENI: Salah seorang wisatawan asing sedang menikmati seni lukis di Seoul Museum of Art, Korea Selatan. Sumber Foto: Seoul Museum of Art.

Oleh: Dr. Yang En Siem Evelyn, PhD.

(Dosen Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan; Doktor Linguistik, Seoul National University, Korea Selatan;
Doktor Ilmu Kajian Budaya, Universitas Udayana, Indonesia).

SEOUL - Korea Selatan tidak lagi sekadar menawarkan pesona drama televisi, musik K-Pop, atau keindahan alam perkotaan yang modern. Kini, Negeri Ginseng secara serius memperluas jangkauan pariwisata budayanya dengan membuka pintu museum dan galeri seni bagi wisatawan internasional, termasuk pengunjung dari Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren perjalanan wisatawan Indonesia ke Korea Selatan mengalami pergeseran yang menarik. Jika sebelumnya kunjungan didominasi oleh objek wisata pop-kultur dan belanja, kini semakin banyak wisatawan Nusantara yang mencari pengalaman mendalam (deep travel) dengan menjelajahi seluk-beluk geografi, sejarah, filosofi, hingga seni rupa Korea.

Memahami potensi dan besarnya antusiasme wisatawan Indonesia, pemerintah kota dan lembaga kebudayaan Korea Selatan mulai mengambil langkah nyata. Salah satu terobosan paling progresif diperlihatkan oleh Seoul Museum of Art (SeMA)—salah satu museum seni terkemuka yang berlokasi di area jantung Ibukota Seoul.

SeMA tengah menyiapkan pemandu atau docent bagi pengunjung asing (termasuk wisatawan asing) dengan meluncurkan Program Uji Coba Pemandu Bahasa Asing 2026 (2026 Foreign Language Docent Pilot Program) yang dijadwalkan berlangsung dari September hingga Desember 2026.

Hal yang paling istimewa dari program ini adalah dimasukkannya Bahasa Indonesia sebagai salah satu dari lima bahasa yang disediakan, dalam arti Bahasa Indonesia bersanding dengan bahasa internasional utama lainnya seperti Bahasa Inggris, Jepang, Cina, dan Prancis.

Panduan pameran kali ini ditujukan untuk pameran permanen To the Wind That Shakes the Soul (Kepada Angin yang Menggentarkan Jiwa), yang menampilkan koleksi karya-karya maestro seni rupa Korea, Chun Kyung-ja, dalam rangka memperingati 100 tahun kelahiran beliau.

Sangat relevan dan membanggakan bagi pembaca di Tanah Air, pameran maestro Chun Kyung-ja ini sejatinya memiliki benang merah emosional yang cukup erat dengan Pulau Dewata. Sepanjang hidupnya, Chun Kyung-ja dikenal sebagai pelukis kelana yang menjelajahi berbagai belahan dunia untuk menyerap inspirasi, di mana Bali menjadi salah satu destinasi yang memberi kesan mendalam pada jiwanya.

Satu karya ikonik dari perjalanannya ke Bali adalah lukisan bertajuk A Dancer in Bali Island (1986). Ketika melihat lukisan ini, pengunjung Indonesia tentu dapat langsung mengenali pakaian adat khas Bali. Chun menonjolkan keindahan kostum, aksesori, dan warna-warna cerah yang begitu hidup karena terinspirasi langsung oleh tata rias khas penari Bali. Kehadiran pemandu berbahasa Indonesia di SeMA tentu menjadi momen berharga bagi wisatawan Nusantara untuk menyaksikan bagaimana keanggunan budaya Bali diabadikan dengan gaya khas maestro seni Korea.

Pihak museum tidak main-main dalam mempersiapkan program ini. Sebagai fondasi utama, Pada bulan Juni hingga Juli lalu, SeMA telah menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Docent Bahasa Asing SeMA 2026. Pelatihan ini menjadi wadah untuk mempelajari berbagai materi, termasuk teknik penyusunan naskah panduan pameran menggunakan lima bahasa pilihan, yakni Inggris, Jepang, Mandarin, Prancis, dan tentunya Bahasa Indonesia.

Hal yang sangat menarik dan membanggakan karena Bahasa Indonesia dipilih dari berbagai bahasa negara Asia Tenggara lainnya, menunjukkan bahwa SeMA merasakan perlunya layanan pemandu khusus untuk peminat seni dari Indonesia.

Langkah SeMA menghadirkan pemandu pameran berbahasa Indonesia merupakan bentuk sambutan terhadap wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea. Menikmati karya seni kontemporer maupun klasik sering kali membutuhkan pemahaman konteks sejarah dan emosi yang mendalam. Kehadiran pemandu yang mampu menyampaikan kisah di balik lukisan dalam bahasa Indonesia akan menghilangkan hambatan bahasa, sehingga apresiasi terhadap karya seni yang dipamerkan dapat menjadi jauh lebih hidup dan menyentuh.

Program uji coba ini dijadwalkan berlangsung sebanyak 20 kali dari bulan September hingga Desember, di mana setiap bahasa dari lima bahasa pilihan akan diselenggarakan satu kali per bulan. Informasi detail mengenai jadwal operasional panduan pameran Bahasa Indonesia dapat diakses melalui situs resmi Seoul Museum of Art (SeMA) mulai 15 Agustus mendatang.

Program uji coba yang ditujukan untuk pameran To the Wind That Shakes the Soul ini membatasi kuota peserta sebanyak 20 orang per sesi guna menjaga kualitas panduan pameran serta menghadirkan interaksi yang mendalam. Hasil evaluasi dan survei kepuasan pengunjung dari uji coba ini akan menjadi landasan utama bagi SeMA untuk menetapkan layanan pemandu bahasa Indonesia sebagai program reguler permanen mulai 2027.

Bagi wisatawan Indonesia yang berencana mengunjungi Seoul antara bulan September hingga Desember ini, kesempatan emas ini tentu sangat sayang untuk dilewatkan. Pendaftaran peserta dapat dilakukan melalui situs resmi Seoul Museum of Art (SeMA) maupun secara langsung di lokasi. Untuk informasi lebih lanjut, silakan cek kategori Educational Event pada laman resmi museum mulai 15 Agustus mendatang. Langkah SeMA ini diharapkan dapat menginspirasi berbagai destinasi budaya lainnya di Korea Selatan untuk semakin merangkul pengunjung museum asal Indonesia dengan lebih hangat dan bersahabat. *** 

 

Editor : Maulana Sandijaya
Sumber : radarbali.jawapos.com
Seoul Museum of Art (SeMa) To the Wind That Shakes the Soul Chun Kyung-ja universitas udayana Korea Selatan