DENPASAR, radarbali.id - Penabuh Seni Kendang Mebarung menempuh hampir 100 kilometer dari Jembrana ke Art centre, Denpasar. Semangat membara hadir di arena Pesta Kesenian Bali XLVI bisa menampilkan seni klasik dari Jembrana yang lahir tahun 1820 kepada penonton di Kalangan Ratna Kanda Art centre Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI kemarin siang (23/6).
Sekaa yang berjumlah 45 orang ini berangkat dari pukul 05.00 pagi dengan bus. Sedangkan sepasang kendang raksasa yang berbahan kayu nangka dan demolih dibawa dengan truk.
Bahkan, bus yang dikendarai mengalami rem blong namun syukurnya tidak terjadi kecelakaan karena mereka segera pindah bus.
"Berangkat jam 5 pagi. Ya macet misi rem bus blong," ungkap pembina sekaa Seni Kendang Mebarung Jembrana usai pentas di kalangan Ratna Kanda Art centre kemarin (23/6). Walau adanya insiden demikian, mereka berhasil sampai di Art centre sekitar pukul 10.00.
Ciri khasnya Kendang Mebarung ditampilkan dua kendang raksasa yang terbuat dari kayu nangka dan kayu demolih kemudian diiringi angklung gamelan Jembrana. Konon kendang itu terbesar di dunia.
Penampilkan seni mebarung ditampilkan oleh dua sekaa.seni yakni Sekaa Seni Mebarung Cipta Suara, Kelurahan Lelateng, Negara dan Sekaa Seni Kendang Mebarung Tri Datu, kelurahan Tegalbadeng Timur, Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana.
Baca Juga: Sah! Perbekel Seluruh Jembrana Diperpanjang, Bupati Minta Jangan Malas-Malasan
Spirit dari Kendang Mebarung ini sama dengan tema PKB Jana Kerthi Paramaguna Wikrama (harkat martabat manusia unggul). Warisan seni yang bisa dinikmati sampai hari ini. Pembinaan Sekaa Seni Mebarungan Kabupaten Jembrana I Wayan Gama menyebutkan Jana adalah pemikiran. Kendang ini adalah Jana, hasilnya ini jika berpikir yang baik sehingga dapat dinikmati dan diwarisi sampai saat ini.
"Apa yang bisa dilakukan sekarang bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya dalam konteks ini pelestarian kesenian dan budaya Hindu Bali," jelas Gama.
Dua penabuh memukul kendang raksasa dengan iringan gamelan, memiliki daya tarik walau tidak ada kreasi. Hanya menampilkan kendang dan gamelan saja. Sejam berlangsung penonton berbagai usia dan daerah menikmati suguhan musik klasik tersebut. Ada yang sampai duduk di tembok karena kursi penonton telah penuh.
Namun, ada juga penonton yang datang dan pergi, tidak menikmati sampai akhir. Seni Kendang mebarung kabupaten Jembrana adalah kesenian yang khas sampai saat ini tetap dilestarikan hingga ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda.
Gama menerangkan Kendang Mebarung biasanya ditampilkan di upacara Panca Yadnya di Jembrana untuk mendukung ritual tersebut. "Fungsinya tidak sama separti Wali tapi sifatnya kesenian bebali atau bebalihan," ucap Gama Astawa.
Penampilan selama kurang lebih sejam itu, menampilkan empat tabuh kolaborasi antara generasi tua dan muda. Pertama, Tabuh Pungkab Sabda bermanka mohon keselamatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa; Kedua, Tabuh Petegak dengan "licing-licing Paku" yang bermakna Tri Hita Karana, keharmonisan antara alam, Tuhan dan lingkungan.
Ketiga, Tabuh Bebarungan. Gama menjelaskan tabuh bebarungan tujuannya eksistensi. Bentuk pementasan yang dimainkan secara bersama-sama dalam melodi, tempo, Teknik, ritme yang sama dengan tujuan untuk mendapatkan keindahan perpaduan suara permainan kendang dan kualitas suara dari sepasang kendang tersebut.
Poinnya sportivitas dengan sportivitas ,mebarung akan menimbulkan peningkaan kualitas, karena introspeksi yang baik. "Masa rage jelek ngorang luung kan (masa diri jelek bilang bagus) Sportivitas peningkatan kualitas, baik dari segi teknik, kualitas, komposer dan alat gamelan," tutur Pria yang berusia 58 tahun ini.
Terakhir, keempat Tabuh Pemuput atau Gegilakan yang menandakan pentas seni itu berakhir. Lebih lanjut dijelaskan oleg Gama, sejak kesenian seni Kendang Mebarung ini ada, ada pergantian jens kendang yang bahannya pakai tempurung kelapa (kau), kendang bungkil, kendang menenangah dan kendang yang sekarang diameter 85 hingga 92 sentimeter. "Bawanya pakai truk berangkat pagi," sebutnya.
Gama beraharap dengan tampil Seni kendang Mebarung ini masyarakat mengetahui Bali memiliki kesenian seperti ini yang kebetulan berada di Jembarana. Juga berharap pihak lain mendukung eksistensi kesenian Kendang Mebarung.
Selain itu, walau kesenian langka ini klasik tapi juga bisa dibuatkan denganperpaduan kreasi tanpa menghilangkan seni klasiknya "Kreasi tapi, tetap ia menekankan yang klasik tetap ditampilkan," tandansya.***
Editor : M.Ridwan