DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Penampilan Duta Kabupaten Jembrana pada Parade Palegongan Klasik Khas dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tampil memukau dan membanggakan di Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu (28/6/2026).
Dalam parade tersebut, Duta Jembrana tidak tampil sendiri, melainkan bersanding dengan Duta Kabupaten Badung.
Kedua duta kabupaten tersebut menampilkan identitas daerah masing-masing melalui sajian tari dan tabuh yang berpijak pada tradisi.
Duta Kabupaten Jembrana yang diwakili oleh Sanggar Seni Ghora Yowana Budaya, Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, tampil bergantian dengan Duta Kabupaten Badung dari Sanggar Seni Tari Dharmawangsa, Banjar Sedang Kelod, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal.
Baca Juga: Jadwal PKB ke-48, Hari Ini, Selasa, 30 Juni 2026
Salah seorang kurator PKB XLVIII, Prof. I Wayan Dibia, menilai bahwa Parade Palegongan Klasik Khas menjadi ruang penting bagi perkembangan seni legong. Menurutnya, setiap daerah memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengolah tradisi.
Kedua kabupaten ini dinilai masih berpegang kuat pada pakem klasik, namun juga berani menawarkan eksplorasi melalui kreasi baru.
"Ada yang menghadirkan legong kreasi dengan roh klasik yang masih sangat kuat, ada juga yang mencoba pendekatan baru. Variasi seperti ini patut diapresiasi," ujarnya.
Menurut Prof. Dibia, meskipun berkonsep klasik, palegongan masih memiliki daya tarik yang kuat. Hal ini menjadi bukti bahwa warisan seni klasik Bali tetap mendapat tempat di hati penonton lintas generasi.
Duta Jembrana membuka penampilannya dengan Tabuh Kulicak, sebuah tabuh petegak palegongan klasik yang diciptakan oleh maestro I Gusti Putu Made Geria pada era 1970-an.
Karya yang terinspirasi dari kicauan burung kulicak tersebut kemudian disusul dengan Tari Legong Bapang Saba, sebuah repertoar klasik dari Desa Adat Saba, Gianyar, ciptaan I Gusti Bagus Jelantik pada dekade 1930-an.
Penampilan Jembrana semakin lengkap melalui Tabuh Kreasi Palegongan "Pengalantaka" karya I Komang Diki Putra Sentana dan Tari Kreasi Palegongan "Mamerko" garapan Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani.
Karya terakhir tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada seniman Berko, Ni Ketut Nepa, atau yang akrab dikenal sebagai Dadong Barak.
Sementara itu, penampilan Duta Badung dibuka dengan Tari Palegongan Kreasi "Nyrigśa" yang ditata oleh Ida Bagus Yodhie Harischandra bersama penata tabuh Ida Bagus Hery Yoga.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih khidmat melalui Tabuh Palegongan Klasik "Solo", sebuah karya monumental maestro I Wayan Lotring yang lahir dari pengalaman artistiknya usai pentas di Solo pada tahun 1926.
Duta Badung melanjutkan pertunjukan dengan Tari Palegongan Klasik "Legod Bawa", sebelum akhirnya menutup penampilan lewat Tabuh Palegongan Kreasi "Rong Telu" karya I Wayan Mulyadi.
Karya tersebut menawarkan tafsir baru terhadap konsep rong telu, yang tidak semata-mata dimaknai sebagai ritus kematian, melainkan juga sebagai refleksi filosofis yang sarat makna.
Parade Palegongan Klasik Khas tahun ini kembali memperlihatkan bahwa seni legong bukan hanya sekadar warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga menjadi ruang kreativitas yang terus berkembang.
Di atas panggung PKB XLVIII, tradisi dan inovasi berpadu, menghadirkan pertunjukan yang memikat sekaligus mempertegas gengsi parade ini sebagai salah satu sajian yang paling dinantikan dalam setiap penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali.***
Editor : M.Ridwan