Waw! Penyair Lintas Generasi Berkumpul di FSBJ, Bahas Ketangguhan Sastra Bali di Era Digital, Mampukah Beradaptasi?

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 01:00 WIB
SYAIR KOPI: Alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) bersama penyair lintas generasi berkumpul dalam diskusi bertajuk Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali di ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ), Sabtu (18/7), di Art Centre, Denpasar. (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)
SYAIR KOPI: Alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) bersama penyair lintas generasi berkumpul dalam diskusi bertajuk Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali di ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ), Sabtu (18/7), di Art Centre, Denpasar. (NI KADEK NOVI FEBRIANI/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com– Di tengah arus digitalisasi yang bergerak semakin cepat, dunia sastra Bali menunjukkan denyut yang tetap hidup.

Alumni Sanggar Minum Kopi (SMK) bersama penyair lintas generasi berkumpul dalam diskusi bertajuk Penyair dan Ketangguhan Kata: Menelisik Napas Puisi di Bali di ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ),  di Art Centre, Denpasar, Sabtu (18/7/2026)

Para penyair berbagi pengalaman kreatif sekaligus pandangan mengenai bagaimana puisi tetap bertahan dan menemukan pembacanya di tengah perubahan zaman.

Diskusi ini tidak hanya membedah proses kreatif di balik lahirnya buku-buku puisi terbaru karya penyair Bali, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap perkembangan sastra di Pulau Dewata.

Diskusi tersebut sekaligus mengulas kembali perjalanan Sanggar Minum Kopi (SMK) sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah sastra Bali. Berdiri pada Juni 1985 atas prakarsa Sthiraprana Duarsa, Dige Amertha, dan Boping Suryadi, SMK lahir dari kegelisahan tiga mahasiswa Universitas Udayana terhadap kehidupan sastra pada masanya.

Baca Juga: Peserta Lomba Baca Puisi FSBJ VIII Membeludak, Diharapkan Lahirkan Seniman Orisinal

Dari ruang perjumpaan yang sederhana, sanggar ini berkembang menjadi wadah belajar bersama bagi penyair, pembaca puisi, dan pelaku seni, serta melahirkan sejumlah tokoh yang memberi warna dalam perkembangan sastra Indonesia.

"Puisi tidak akan pernah mati selama masih ada penyair yang berani jujur pada keresahannya dan pembaca yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan merenung," ujar moderator diskusi, Wayan Juniartha.

Sastrawan dan budayawan ini mengungkapkan, dalam perjalanan SMK, sosok Umbu Landu Paranggi dinilai memiliki pengaruh  dalam mendorong generasi muda menjadikan sastra sebagai praktik kolektif.

Atas dorongannya, SMK rutin menggelar forum apresiasi puisi setiap pekan yang memadukan pembacaan karya, bedah puisi, dan ruang kritik terbuka.

Tradisi tersebut terus dirawat melalui kehadiran para pinisepuh, Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira, yang secara berkala mendampingi serta menginspirasi para anggota SMK.

Melalui diskusi ini, jejak sejarah tersebut kembali dihadirkan untuk dikenang, dibaca ulang, sekaligus dirayakan.

Kehadiran alumni SMK bersama penyair lintas generasi menjadi penanda bahwa tradisi sastra tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus diwariskan melalui perjumpaan, dialog, dan praktik berkesenian yang berkelanjutan.

Diskusi juga menyoroti perubahan cara berkarya para penyair Bali. Puisi kini tidak lagi sekadar menjadi ekspresi personal, tetapi semakin banyak diolah menjadi buku, baik dalam format cetak maupun digital.

Proses kreatif tersebut dipandang sebagai upaya menangkap kegelisahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam bahasa puitis yang tetap berakar pada kebudayaan Bali, namun terbuka terhadap realitas modern.

Para narasumber menegaskan bahwa menjadi penyair bukan sekadar merangkai kata. Dibutuhkan ketekunan, disiplin, serta proses panjang mulai dari pemilihan tema, penyuntingan naskah, hingga strategi penerbitan dan distribusi agar karya dapat menjangkau pembaca.

Dalam suasana yang hangat dan terbuka, diskusi mengajak publik melihat puisi bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai praktik kebudayaan yang hidup melalui bahasa, ingatan, dan dialog antargenerasi.

Ketangguhan puisi tidak hanya terletak pada keindahan lariknya, tetapi juga pada kemampuannya merekam zaman, merawat kepekaan, dan menghadirkan perspektif baru bagi perkembangan sastra Bali.

Menjawab keraguan mengenai masa depan puisi, para peserta sepakat bahwa puisi justru semakin relevan di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat.

Mereka menilai penyair perlu beradaptasi dengan media baru, termasuk memanfaatkan media sosial, karya visual, hingga platform digital untuk memperluas jangkauan pembaca tanpa mengurangi kedalaman karya.

Di sisi lain, ruang-ruang kolektif seperti Sanggar Minum Kopi dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga ekosistem sastra melalui diskusi, pembacaan karya, kritik, dan regenerasi.

Diskusi ditutup dengan optimisme bahwa puisi akan selalu memiliki tempat selama manusia masih memiliki perasaan, kegelisahan, dan harapan.

"Bagi para penyair Bali, perjuangan itu bukan semata-mata untuk memperoleh panggung, melainkan sebagai tanggung jawab kebudayaan untuk merawat bahasa, menjaga kepekaan, dan menghadirkan ruang refleksi bagi masyarakat," pungkas Juniartha.***

 

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
FSBJ VIII Tahun 2026 sanggar minum kopi penyair berkumpul wayan jengki sunarta