Peringati Hari Anak Nasional, Made Mawut, Nosstress, dan Anak-Anak Rilis Lagu 'Selaras'

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:50 WIB
MENYENANGKAN: Nosstress berkolaborasi dengan Made Mawut hibur anak-anak di Hari Anak Nasional yang jatuh 23 Juli. (IST/radarbali.id)
MENYENANGKAN: Nosstress berkolaborasi dengan Made Mawut hibur anak-anak di Hari Anak Nasional yang jatuh 23 Juli. (IST/radarbali.id)

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Keresahan terhadap kondisi lingkungan dan sosial yang berpotensi mengancam tumbuh kembang anak dituangkan dalam lirik-lirik lagu oleh Nosstress berkolaborasi dengan Made Mawut.

Lagu tersebut dirilis tepat pada Hari Anak Nasional, 23 Juli. Menariknya, mereka turut mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu yang diberi judul "Selaras" ini. Karya tersebut dihadirkan sebagai bentuk ajakan refleksi serta manifesto kecil pola pengasuhan (parenting) di tengah kompleksitas kehidupan modern.

​Proses perekaman, mixing, hingga mastering digarap oleh Nyoman Angga Yudistha di Studio Taman Bermain Nosstress. Sementara itu, peluncuran lagu ini turut dilengkapi dengan video klip hasil garapan Hadhi Kusuma.

​Peluncuran karya ini sengaja diselaraskan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang berakar dari momen disahkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Regulasi ini merupakan landasan hukum pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

​Penulis lirik sekaligus pengaransemen lagu, Made Mawut, mengungkapkan bahwa inisiasi karya ini berangkat dari keinginan untuk menanamkan nilai-nilai kerja sama dan kesetaraan sejak dini. Ia juga menyoroti peran negara dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda.

​"Lagu 'Selaras' dihadirkan sebagai manifesto kecil parenting. Negara seharusnya memfasilitasi tumbuh kembang anak secara harmonis, tanpa paksaan kompetisi, dan selaras dengan hak-hak dasarnya," ujar Made Mawut pada Kamis, 23 Juli 2026.

​Dalam proses pembuatannya, partisipasi anak-anak dilakukan secara alamiah dan persuasif melalui pendekatan orang tua. Anak-anak diperdengarkan draf lagu terlebih dahulu hingga mereka secara sukarela setuju untuk menyanyikannya. Proses latihan pun dikemas dengan menyenangkan, seperti bernyanyi sambil mewarnai gambar dan lirik lagu.

​Sementara itu, personel Nosstress, Man Angga, membeberkan keresahan mendasar yang memicu lahirnya karya ini. Kesibukan bekerja kerap menyita waktu orang tua sehingga mengurangi interaksi dengan anak. Terlebih, pemerintah dinilai kurang responsif terhadap kondisi ini sehingga anak-anak berpotensi menjadi korban.

​"Tentunya yang pertama, pasti kehidupan orang tua yang akan tersita sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk hidup bersama anak-anak. Padahal sebenarnya untuk menjadi selaras, anak-anak tidak memerlukan banyak hal. Mereka hanya memerlukan tempat bermain yang baik, serta waktu yang cukup untuk bisa berinteraksi dengan ruang sekitarnya, terutama dengan keluarga," jelas Man Angga.

​Man Angga juga mengkritisi kebijakan lingkungan dan kebijakan publik yang berdampak pada pengasuhan anak. "Indonesia ini sepertinya sangat amat berat dengan kondisi saat ini, apalagi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat kacau. Jadi, mungkin karya ini adalah salah satu cara agar kita bisa tetap waras kepalanya untuk menghadapi kondisi saat ini," tegasnya.

​Proses penggarapan lagu ini menghabiskan waktu beberapa bulan sejak diawali pada awal tahun. Tim produksi sengaja memutar draf musik secara berkala di lingkungan rumah agar anak-anak terbiasa dan menghafal lirik secara natural tanpa merasa tertekan.

​"Kalau misalnya bilang ke anak-anak, 'Ayo kita nyanyi, nanti kita rekam', anak-anak pasti bakal takut dan grogi duluan. Jadi, perlu waktu yang panjang... sampai akhirnya mereka tertarik secara natural dan menghafal dengan sendirinya," kata Man Angga.

​Pendekatan humanis juga diterapkan saat proses rekaman vokal. Sebelum masuk studio, para musisi dan orang tua menggelar simulasi bernyanyi bersama lewat kegiatan piknik kecil. Sesi rekaman vokal anak-anak dikondisikan secara fleksibel, baik secara bersama-sama maupun terpisah, disesuaikan dengan tingkat kenyamanan dan ketersediaan waktu masing-masing anak.

​Senada dengan hal tersebut, Ngurah Termana, selaku perwakilan dari orang tua anak-anak yang terlibat, menyampaikan pesan mendalam mengenai proses belajar yang saling mengisi antara orang tua dan anak.

​"Konon, menjadi orang tua adalah tentang mengajarkan banyak hal kepada anak. Namun, semakin kami menjalaninya, kami menyadari bahwa menjadi orang tua justru adalah tentang terus belajar," ungkap Ngurah Termana.

​Ia menambahkan, lagu ini adalah media dialog yang mengingatkan bahwa pengasuhan adalah proses tumbuh bersama tanpa dominasi.

​"Oleh karenanya, lagu 'Selaras' ini dihadirkan sebagai ruang untuk berefleksi, mengingat, sekaligus berdialog. Bahwasanya anak dan orang tua sama-sama sedang bertumbuh, sama-sama menanam, bukan semata memanen; bekerja bersama, bukan berlomba; berbagi, bukan menguasai; mendengarkan, bukan mendominasi; bergandengan tangan, bukan berjalan sendiri; serta bersama menyapa alam, bukan menguasai. Karena hidup yang bahagia bukanlah tentang menjadi seragam," tambahnya.

​Karya yang ditulis oleh Made Mawut bersama Guna Warma ini diproduseri oleh Made Mawut dan Nyoman Angga Yudistha. Vokal utama dibawakan oleh anak-anak, yakni Mimi, Dhira, Una, Gia, Galang, Hara, Titi, Uga, dan Semesta, dengan dukungan backing vocal yang melibatkan Mulia dan Reynand.

​Sisi musikalitas dibantu oleh Gede Yudis pada keys dan bass synth, Nyoman Angga Yudistha memegang ukulele tenor serta perkusi, sedangkan Made Mawut mengisi instrumen slide guitar, ukulele soprano, harmonika, hingga glockenspiel.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
made mawut nosstress hari anak nasional