KASUS bunuh diri yang dilakukan salah satu siswi SMA di Banjar Dinas Kubu, Karangasem benar-benar bikin miris dan mengelus dada.
Pasalnya hanya gara-gara tak terima dan tersinggung karena ditegur orang tuanya agar tidak main handphone (HP), Ni Kadek AM nekat mengakhiri hidup dengan cara instan.
Remaja putri ini ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon akasia di sebuah lahan milik I Gede Riana di wilayah Banjar Dinas Winangun.
Lalu seperti apa sosok mendiang semasa hidup dan bagaimana hingga kasus ini terjadi?
ZULFIKA RAHMAN, Amlapura
AKHIR hidup tragis dipilih Ni Kadek AM.
Remaja putri berusia 15 tahun dan masih duduk di bangku SMA ini memilih jalan mati secara instan hanya gara-gara masalah sepele.
Ia nekat mengakhiri hidup dan ditemukan gantung diri di pohon akasia di sebuah lahan milik warga di Banjar Dinas Winangun, pada Jumat malam (17/9) kemarin.
Seperti dibenarkan Kapolsek Kubu AKP I Nengah Sona. Saat dikonfirmasi, ia mengatakan, jika korban gantung diri karena diduga ngambek usai ditegur dan dimarahi orang tua.
Korban ditegur keluarga karena kecanduan main hanphone dan sering lupa makan dan istirahat.
Sayang, niat baik orang tua malah disalahartikan. Korban yang tersinggung lalu kabur meninggalkan rumah dengan menggunakan sepeda gayung sekitar pukul 14.00 WITA.
“Jadi korban kesehariannya selalu bermain HP dengan tidak mengenal waktu makan dan istirahat, sehingga pihak keluarga memarahinya,” ungkap AKP Nengah Sona.
Singkat cerita, setelah kabur dari rumah, korban tak pulang hingga petang. Kemudian karena keluarga khawatir terjadi sesuatu pada korban, akhirnya keluarga mencari Ni Kadek AM.
Sayangnya, saat proses pencarian, keluarga tak juga menemukan korban. Hingga akhirnya, keluarga mendapat informasi jika Ni Kadek AM ditemukan warga gantung diri di lahan milik I Gede Riana warga setempat.
Mendengar putrinya tewas gantung diri, keluarga langsung syok dan histeris. Selanjutnya, polisi dan tim medis mendatangi TKP.
Setelah tiba dan dilakukan pemeriksaan, jenazah kemudian dievakuas ke rumah duka. “Tidak ditemukan tanda kekerasan. Pihak keluarga juga menolak dilakukan otopsi dan mengihklaskan kepergian korban sebagai musibah,”tukas AKP Sona.
Sementara itu, dari informasi, korban dikenal lebih tertutup dan makin pendiam sejak kecanduan main HP. Selain itu, dari keterangan keluarga, akibat main HP, korban juga sering lupa waktu makan dan istirahat.
Editor : Didik Dwi Pratono