MANGUPURA, radarbali.jawapos.com – Keberadaan tempat hiburan malam Nectar di Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, Badung akhirnya mendapat perhatian aparat. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Badung mengaku telah turun langsung melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan aktivitas usaha tersebut.
Kasatpol PP Badung I Gusti Agung Ketut Suryanegara mengatakan, pengecekan dilakukan setelah muncul berbagai laporan masyarakat terkait aktivitas di tempat itu. Namun berdasarkan laporan petugas di lapangan, usaha tersebut disebut belum beroperasi penuh.
“Petugas kemarin sudah ke sana. Dari laporan staf, belum ada operasional penuh. Yang berjalan baru di lantai satu saja, yakni restorannya,” ujar Suryanegara, Sabtu (7/3). Ia menjelaskan, hingga saat ini aktivitas yang terlihat di lokasi hanya sebatas usaha restoran.
Sementara area di lantai atas yang sempat menjadi sorotan masyarakat disebut belum difungsikan. “Laporan staf, yang berjalan baru usaha restorannya saja,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Bagian Linmas dan Tibum Satpol PP Badung, Bagus Rai, yang memimpin pengecekan lapangan membenarkan bahwa pemilik usaha sempat dipanggil oleh bidang Penegakan Peraturan Daerah (Perda).
Pemanggilan tersebut dilakukan karena kelengkapan perizinan usaha disebut belum sepenuhnya rampung.
“Iya, pemiliknya pernah dipanggil oleh bidang Penegak Perda. Untuk restoran sudah ada izinnya, tapi yang di atas memang belum beroperasi,” jelasnya.
Menurut Bagus Rai, tempat tersebut juga belum bisa disebut sebagai klub malam seperti yang ramai diperbincangkan masyarakat. Saat ini, pengelola disebut masih melakukan penataan ruangan.
“Bukan klub. Itu ruangannya kecil dan mereka masih pembenahan, termasuk menyiapkan peredam dan fasilitas lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, izin operasional untuk area lantai atas memang belum lengkap. Selain karena belum digunakan, proses perizinannya juga masih berjalan.
“Untuk izinnya memang belum lengkap karena belum operasi juga. Tapi untuk SKPL sudah ada, sementara izin lainnya masih proses,” pungkasnya.
Namun, pernyataan Satpol PP itu justru memunculkan tanda tanya di kalangan masyarakat. Pasalnya, sejumlah warga menyebut aktivitas di lokasi tersebut jauh dari gambaran sebuah restoran biasa.
Beberapa warga mengaku tempat itu kerap ramai hingga subuh, bahkan saat akhir pekan menghadirkan DJ dan pekerja wanita dari luar negeri.
“Waduh, kok bisa ya. Suasana di tempat itu bukan restoran biasa. Silakan saja cek setiap malam,” ujar salah seorang warga setempat sambil geleng kepala.
Informasi yang dihimpun di lapangan juga menunjukkan adanya sistem reservasi layaknya klub malam.
Pada salah satu informasi yang beredar, tercantum kontak reservasi bertuliskan “GL & Reservation Here For RSVP 0881037582XXX.”
Namun saat nomor tersebut dihubungi melalui WhatsApp, pengirim pesan hanya menerima balasan otomatis.
“Hello there! Thank you for reaching out to Nectar Club Bali.Our team will reply to your message as soon as possible. For reservations, tables, or any inquiries, simply reply to this message. Thank you, Nectar Club Bali,” demikian isi pesan otomatis tersebut.
Selain itu, admin juga mengirimkan denah reservasi meja lengkap dengan kategori dan harga minimum pemesanan.
Dalam denah tersebut terlihat area DJ booth sebagai pusat hiburan. Di sekelilingnya terdapat sejumlah meja VIP dengan posisi strategis untuk menikmati pertunjukan musik.
Pada bagian paling eksklusif terdapat area VVIP dengan minimum spend sekitar Rp 45 juta++, belum termasuk pajak dan biaya layanan.
Sementara meja VIP di sisi kiri dan kanan DJ booth seperti V1, V2, V3, V4, V6, V7, dan V8 dipatok dengan minimum spend sekitar Rp15 juta++.
Tersedia pula kategori meja menengah dengan minimum spend sekitar Rp20 juta++, serta meja lainnya dengan harga mulai Rp7 juta++.
Seluruh harga tersebut masih dikenakan tambahan pajak 15 persen dan service charge 7 persen. Melihat skema reservasi tersebut, sebagian warga pun kembali mempertanyakan pernyataan bahwa tempat tersebut hanya beroperasi sebagai restoran.
“Restoran macam apa ada DJ booth, VVIP, dan reservasi meja sampai puluhan juta?” ujar warga lainnya. (Tim Redaksi)
Editor : Rosihan Anwar