Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

FASA Bahas Isu Krusial Dampak Buruk Krisis Laut Merah Bagi Akses Kapal Niaga Global di Bali

Miftahuddin M.Halim • Kamis, 7 Maret 2024 | 03:38 WIB

 

Ketua Umum FASA Carmelita Hartoto (kanan) dan Sekjen FASA Michael Phoon saat sesi Konferensi Pers, Rabu (6/3/2024).
Ketua Umum FASA Carmelita Hartoto (kanan) dan Sekjen FASA Michael Phoon saat sesi Konferensi Pers, Rabu (6/3/2024).

NUSA DUA, radarbali.id – Sejumlah isu krusial mengemuka dalam 60th Executive Committee Meeting & 49th Annual General Meeting (AGM), Federation of ASEAN Shipowners’ Association (FASA) atau Asosiasi Pemilik Kapal ASEAN di Nusa Dua Bali, Rabu (6/4/2024).

Exco meeting dan AGM FASA merupakan agenda tahunan FASA yang dihadiri oleh delegasi yang mewakili asosiasi pelayaran dari delapan negara ASEAN anggota FASA dan para pemilik kapal nasional.

Pertemuan ini juga merupakan yang pertama kali sejak INSA terpilih sebagai Ketua Umum FASA periode 2024-2025.

Ketua Umum INSA (Indonesian National Shipowners’ Association)  dipercaya menjadi Ketua Umum FASA periode 2024-2025, sesuai keputusan exco meeting di Brunei Darussalam pada November 2023 lalu.

Dalam sesi konferensi pers Rabu siang (6/3/2024) Ketua Umum FASA Carmelita Hartoto, menjelaskan, pertemuan ini membahas berbagai isu krusial menyangkut industri pelayaran regional dan global. Seperti dekarbonisasi, green shipping dan Selat Malaka.

Menurutnya, kini dunia berada dalam ketidakpastian yang tinggi saat ini. Sejumlah tantangan pelayaran, terutama karena perang Rusia vs Ukraina dan Israel VS Palestina, serta krisis Laut Merah telah memaksa operator kapal menempuh rute lebih jauh antara Asia dan Eropa. Situasi ini telah menjadi perhatian serius para pelaku usaha pelayaran regional dan global.

"Forum ini akan menjadi wadah kami untuk sharing informasi untuk mencari solusi atas setiap tantangan dan persoalan  pelayaran di ASEAN," kata Carmelita yang juga Ketua Umum DPP INSA, Rabu (6/3/2024).

Carmelita mengatakan, forum ini juga menjadi wadah membahas masalah dan peluang bisnis pelayaran di ASEAN. Masalah yang timbul antara negara anggota FASA, seperti persoalan penahanan kapal (ship detention).

Adapun peluang bisnis dan peningkatan kerja sama pelayaran antara sesama anggota FASA di ASEAN itu menyangkut, dukungan dalam pembiayaan pengadaan kapal, asuransi kapal dan galangan kapal.

Di sisi lain, ucap Carmelita, forum ini juga akan memberikan manfaat bagi Indonesia dalam penguatan beyond cabotage. Menurutnya, sudah banyak perusahaan pelayaran nasional yang melayani rute internasional dengan berbagai macam komoditas yang diangkut.

Diharapkan, kepemimpinan INSA di FASA dan peningkatan kerjasama antar anggota FASA akan memicu para eksportir nasional semakin banyak menggunakan jasa kapal nasional untuk kegiatan ekspornya.

“Kepemimpinan di FASA dan kelak di ASA akan menjadi kesempatan Indonesia berkontribusi lebih besar bagi kemajuan industri pelayaran dan maritim di tingkat regional Asia,” tukasnya.

Hal senada juga ditegaskan Sekjen FASA Michael Phoon yang menurutnya, akibat krisis Laut Merah memperlambat distribusi jasa niaga internasional.

”Pengiriman barang via kapal laut menjadi bertambah 8 hari dari biasanya akibat krisis Laut Merah. Dan, ini tentu menambah biaya operasional dan mempengaruhi harga sampai di konsumen,” ungkap Michael Phoon, dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan.

Namun pihaknya tak menyebutkan berapa persen penambahan biaya akibat perlambatan atau penambahan 8 hari pengiriman barang ke negara-negara tujuan via kapal-kapal niaga ini.

Dikatakan, jika sebelumnya kapal-kapal niaga dari Selat Malaka langsung ke Eropa, akibat krisis ini harus memutar melewati Afrika. ”Inilah yang ingin kami temukan solusinya seperti apa kedepan,” tandasnya.

Terlebih pihaknya juga tidak bisa memastikan sampai kapan perang dan krisis laur merah berakhir.

Selain itu, di forum ini tambahnya, FASA juga mendorong anggotanya untuk melakukan konversi bahan bakar ramah lingkungan kapal-kapal milik anggotanya. Yakni, dari bahan bakar berbasis fosil ke Bio Oil. ***

Editor : M.Ridwan
#FASA #krisis laut merah #asosiasi pemilik kapal ASEAN #insa