RADAR BALI - Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mulai mengevakuasi sejumlah diplomat dan keluarganya dari wilayah Israel di tengah meningkatnya spekulasi tentang potensi keterlibatan AS dalam konflik Israel-Iran.
Langkah ini sejalan dengan negara-negara Eropa yang juga memulangkan warganya dari wilayah tersebut.
Pada hari Rabu (18/6/2025), Departemen Luar Negeri AS memindahkan diplomat yang tidak esensial beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Israel.
Sementara itu, AS diprediksi sedang mempersiapkan serangan langsung ke Iran. Sumber Bloomberg News melaporkan bahwa pejabat senior AS "bersiap untuk kemungkinan serangan terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang."
Di tengah serangan balik Iran, kantor berita Associated Press (AP) melaporkan Israel menargetkan serangan ke reaktor nuklir air berat Iran di Arak.
Reaktor tersebut telah didesain ulang oleh Inggris guna menghilangkan kekhawatiran penggunaan air berat untuk menghasilkan plutonium yang dapat diubah menjadi senjata.
Pada 2015, Iran telah menyatakan persetujuan untuk menjual air berat tersebut ke negara-negara barat. AS juga telah membeli 32 ton air berat dari reaktor tersebut senilai USD 8 juta.
Serangan udara Israel juga dilaporkan menargetkan situs nuklir Iran di Natanz, bengkel sentrifugal di sekitar Teheran, dan situs nuklir di Isfahan.
Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA) telah mendesak Israel untuk tidak menyerang situs nuklir Iran. Inspektur IAEA dilaporkan terakhir mengunjungi Arak pada 14 Mei.
Secara terpisah, Dewan Keamanan PBB menjadwalkan pertemuan darurat kedua tentang konflik Israel-Iran pada hari Jumat atas permintaan Rusia, Tiongkok, dan Pakistan.
Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan untuk membantu mediasi, menyarankan Moskow dapat membantu menegosiasikan penyelesaian yang memungkinkan Teheran mengejar program atom damai sambil meredakan kekhawatiran keamanan Israel. ***