Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Konflik Thailand - Kamboja Memanas, Ini Latar Belakang dan Penyebabnya

Admin Radar Bali • Jumat, 25 Juli 2025 | 05:26 WIB
SERANGAN ROKET : Roket BM-21 yang ditembakkan dari Kamboja mengenai stasiun pengisian bahan bakar PTT di Ban Phue, Thailand. (Dok. X @ThaiEnquirer/JPG)
SERANGAN ROKET : Roket BM-21 yang ditembakkan dari Kamboja mengenai stasiun pengisian bahan bakar PTT di Ban Phue, Thailand. (Dok. X @ThaiEnquirer/JPG)

Radar Bali.id-  Perang Thailand dan Kamboja, terutama yang sering terjadi di perbatasan, penyebabnya adalah sengketa perbatasan yang tidak jelas. Khususnya di sekitar Kuil Preah Vihear.

Penyebabnya antara lain karena sengketa Wilayah Kuil Preah Vihear. Kuil Preah Vihear: Ini adalah pusat utama konflik. Kuil kuno berusia sekitar 900 tahun ini terletak di perbatasan kedua negara dan menjadi rebutan.

Selain itu adalah karena keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) 1962: Pada tahun 1962, ICJ memutuskan bahwa Kuil Preah Vihear adalah milik Kamboja. Namun, putusan ini tidak secara jelas menentukan kepemilikan wilayah seluas 4,6 km persegi di sekitar kuil, sehingga menyisakan celah sengketa.

Peta Buatan Prancis: Konflik ini berakar dari ketidakjelasan batas-batas wilayah pada peta yang dibuat berdasarkan pemerintahan Prancis (yang menjajah Kamboja) dan pemerintahan Siam (Thailand) pada awal abad ke-20. Peta tahun 1907 yang dibuat Prancis menempatkan Kuil Preah Vihear di wilayah Kamboja, meskipun akses utama ke kuil justru dari sisi Thailand.

Di sisi lain, adanya penetapan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia (2008) juga menyebabkan risiko konflik sulit mereda.

Tahun 2008, Kamboja mengajukan Kuil Preah Vihear sebagai situs warisan dunia UNESCO. Meskipun Thailand awalnya mendukung, kelompok nasionalis Thailand menentang keras, memicu unjuk rasa dan kemudian bentrokan bersenjata. Keputusan UNESCO ini kembali memanaskan sengketa yang sebenarnya sudah lama ada.

Faktor Kondisi Politik Domestik dan Nasionalisme Kedua Negara

Konflik ini juga sering kali dipicu oleh isu politik domestik yang tidak stabil di Thailand, di mana kelompok-kelompok nasionalis menggunakan sengketa perbatasan ini untuk kepentingan politik.

Baik Thailand maupun Kamboja punya sentimen nasionalisme yang kuat terkait klaim atas wilayah tersebut. Juga adanya sumber daya alam. Termasuk beberapa sumber juga menyebutkan bahwa wilayah sekitar Kuil Preah Vihear kaya akan sumber daya mineral, minyak bumi, dan gas alam, yang turut menjadi faktor pendorong sengketa ini.

Meskipun Mahkamah Internasional telah berulang kali menegaskan kepemilikan Kuil Preah Vihear kepada Kamboja (termasuk penafsiran ulang keputusan pada tahun 2013), ketegangan di perbatasan masih kerap memicu bentrokan militer karena klaim atas wilayah di sekitar kuil yang belum sepenuhnya terselesaikan dan juga adanya faktor-faktor pendorong lainnya.

Terus Memantau, KBRI Pastikan Tak Ada Korban WNI

Sementara itu, sebagaimana dilansir JawaPos.com, pihak KBRI memastikan tidak ada warga Indonesia yang menjadi korban dalam konflik tersebut. “Saat ini kami belum menerima kabar terkait adanya korban WNI,” ujar Sekretaris Pertama KBRI Phnom Penh Linda Widiyanti dihubungi Kamis (24/7/2025).

KBRI Phnom Penh terus memantau situasi dari pertempuran yang terjadi antara Thailand dan Kamboja. Hingga saat ini, dipastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) di Kamboja yang jadi korban

Linda mengaku belum ada imbauan khusus yang dikeluarkan secara resmi oleh KBRI bagi WNI di Kamboja terkait situasi yang terus memanas. Pihaknya kini pun masih terus memantau situasi dan perkembangan yang ada.

Untuk diketahui, bentrokan antar kedua negara tetangga ini pecah pada Kamis pagi (24/7/2025) di sekitar kuil Ta Moan Thom yang terletak di wilayah perbatasan antar kedua negara, atau sekitar 360 km sebelah timur Bangkok. Kedua belah pihak sama-sama mengaku diserang terlebih dahulu, hingga akhirnya melakukan serangan balasan. 

Dikutip dari Reuters, Kamis, Militer Thailand menyebut baku tembak terjadi sekitar pukul 07.35 waktu setempat setelah unit militer yang menjaga kuil Ta Muen mendengar suara drone milik Kamboja.

Tak lama setelahnya, 6 prajurit Kamboja termasuk yang membawa granat berpeluncur roket mendekati pagar kawat berduri di dekat pos jaga Thailand. Kedatangan mereka sempat diperingatkan oleh pihak Thailand, akan tetapi pasukan Kamboja justru mengeluarkan tembakan ke arah timur kuil yang berjarak kurang lebih 200 meter dari pos jaga Thailand. Hingga akhirnya baku tembak pun terjadi. 

Sebaliknya, pihak Kamboja menyatakan, bentrokan terjadi usai tentara Thailand memprovokasi wilayah perbatasan. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata mengatakan, tanggapan yang dilakukan militer Kamboja merupakan bentuk pembelaan diri atas serangan yang dilakukan pihak Thailand.

 “Pasukan Kamboja bertindak secara ketat dalam batas-batas pembelaan diri menanggapi serangan tak beralasan oleh pasukan Thailand yang melanggar integritas teritorial kami,” paparnya. 

Usai bentrok tersebut, saling berbalas serangan udara pun terus berlanjut. Terbaru, sebuah jet tempur F-16 milik Thailand mengebom sasaran di wilayah Kamboja.

Insiden ini menandai eskalasi ketegangan perbatasan yang telah berlangsung selama beberapa minggu menjadi bentrokan bersenjata pada Kamis (24/7/2025). 

“Kami menggunakan kekuatan udara untuk menyerang target militer sesuai rencana,” kata Wakil Juru Bicara Militer Thailand, Richa Suksuwanon. Thailand juga telah menutup perbatasannya dengan Kamboja.

Kementerian Pertahanan Kamboja menyatakan jet-jet tersebut menjatuhkan dua bom di sebuah jalanan sipil. Kamboja mengecam keras agresi militer yang sembrono dan brutal oleh Kerajaan Thailand terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Kamboja tersebut. 

Bentrokan ini terjadi setelah Thailand memanggil pulang duta besarnya dari Kamboja pada Rabu malam, dan menyatakan akan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok. [*/JPG/JawaPos.com]

Editor : Hari Puspita
#asean #konflik Thailand Kamboja #perang