Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Banyak Dinyinyiri Netizen Soal Hibah Kapal Induk Bekas Italia, Garibaldi, Tiongkok dan India juga Punya Cara Serupa PT PAL Ini

Admin Radar Bali • Minggu, 22 Februari 2026 | 12:25 WIB

Ilustrasi kapal induk Gajah Mada dan Garuda penjaga NKRI. (gambar digital gemini/radar bali)
Ilustrasi kapal induk Gajah Mada dan Garuda penjaga NKRI. (gambar digital gemini/radar bali)

Banyak kalangan warganet Indonesia, Malaysia, hingga Vietnam, yang nyinyir soal hibah kapal induk bekas Angkatan Laut Italia, Garibaldi, untuk memperkuat armada maritim TNI AL ke depan.Termasuk pengamat militer Australia, Dr. Tom Lewis, juga ikut nyinyir, meragukan kemampuan Indonesia dalam mengoperasikan kapal induk eks-Italia, ITS Giuseppe Garibaldi yang akan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada.

WAJAR saja bila dilihat di permukaan. Alasannya tentu saja masuk akal juga, sebenarnya : Biaya operasional yang tinggi, ongkos perbaikan yang mahal, perlu SDM 600 lebih personel  prajurit untuk menggerakkan operasional di dalam kapal dan sebagainya. Juga ada yang nyinyir, hanya untuk gagah-gagahan doang.

Baca Juga: KRI Gusti Ngurah Rai, Kapal Perusak Produk PT PAL Siap Kawal NKRI

Padahal, langkah Indonesia untuk melompati tahapan teknologi melalui skema "beli bekas lalu bangun sendiri" adalah mengikuti jejak sukses dua raksasa Asia, China dan India. Ini lazim saja. Normal saja.

Dan, ini tentunya sudah diperhitungkan untung ruginya, kalkulasi pengeluaran dan efek yang didapatkannya untuk masa depan pertahanan maritim Indonesia.

Berikut adalah uraian mengenai proses transformasi industri galangan kapal untuk memproduksi kapal induk, yang biasanya memang  “belajar”  dari membeli kapal induk bekas terlebih dulu dari negara lain.

Seperti dilakukan oleh negara besar lainnya, macam  China dan India, serta rencana besar PT PAL untuk LHD Indonesia.

Jejak China: Dari Kapal Kasino ke Supercarrier

China melakukan strategi yang sangat cerdik namun berisiko tinggi.

Jejak India, Evolusi dari Inggris ke Domestik

India memiliki sejarah panjang mengoperasikan kapal induk bekas Inggris (HMS Hercules dan HMS Hermes).

Rencana PT PAL: Menuju Era LHD 238 Meter dengan Target Mulai Produksi 2027

Indonesia dipastikan sudah dalam proses mengambil alih kapal induk bekas Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (551), melalui skema hibah/pembelian yang diproyeksikan tiba sebelum Oktober 2026. 

Di sisi lain, Indonesia melalui PT PAL juga memilih jalur yang lebih realistis namun strategis dengan membangun Landing Helicopter Dock (LHD) ketimbang kapal induk pesawat tempur konvensional.

Mengapa LHD?

LHD jauh lebih multifungsi bagi negara kepulauan. Selain fungsi militer, LHD sangat efektif untuk operasi kemanusiaan (HADR), rumah sakit terapung, dan pusat komando saat bencana alam.

Kesiapan PT PAL dan  Spesifikasi Target 2027

Jika proyek 2027 ini berjalan mulus, Indonesia akan memiliki kapal perang terbesar di Asia Tenggara. Ini bukan sekadar tentang "pamer kekuatan", tapi tentang kemampuan mobilitas pasukan dan logistik di wilayah laut yang sangat luas.[*]

Editor : Hari Puspita
#industri kapal #negara maritim #PT PAL Surabaya #kapal induk #Giuseppe Garibaldi