Banyak kalangan warganet Indonesia, Malaysia, hingga Vietnam, yang nyinyir soal hibah kapal induk bekas Angkatan Laut Italia, Garibaldi, untuk memperkuat armada maritim TNI AL ke depan.Termasuk pengamat militer Australia, Dr. Tom Lewis, juga ikut nyinyir, meragukan kemampuan Indonesia dalam mengoperasikan kapal induk eks-Italia, ITS Giuseppe Garibaldi yang akan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada.
WAJAR saja bila dilihat di permukaan. Alasannya tentu saja masuk akal juga, sebenarnya : Biaya operasional yang tinggi, ongkos perbaikan yang mahal, perlu SDM 600 lebih personel prajurit untuk menggerakkan operasional di dalam kapal dan sebagainya. Juga ada yang nyinyir, hanya untuk gagah-gagahan doang.
Baca Juga: KRI Gusti Ngurah Rai, Kapal Perusak Produk PT PAL Siap Kawal NKRI
Padahal, langkah Indonesia untuk melompati tahapan teknologi melalui skema "beli bekas lalu bangun sendiri" adalah mengikuti jejak sukses dua raksasa Asia, China dan India. Ini lazim saja. Normal saja.
Dan, ini tentunya sudah diperhitungkan untung ruginya, kalkulasi pengeluaran dan efek yang didapatkannya untuk masa depan pertahanan maritim Indonesia.
Berikut adalah uraian mengenai proses transformasi industri galangan kapal untuk memproduksi kapal induk, yang biasanya memang “belajar” dari membeli kapal induk bekas terlebih dulu dari negara lain.
Seperti dilakukan oleh negara besar lainnya, macam China dan India, serta rencana besar PT PAL untuk LHD Indonesia.
Jejak China: Dari Kapal Kasino ke Supercarrier
China melakukan strategi yang sangat cerdik namun berisiko tinggi.
- Membeli Kapal Bekas pada tahun 1998, China membeli kapal induk kelas Kuznetsov yang belum selesai, Varyag, dari Ukraina dengan dalih akan dijadikan "kasino terapung".
- Proses Reverse Engineering: Di galangan kapal Dalian, China membongkar dan mempelajari setiap jengkal teknologi Soviet tersebut. Mereka melakukan modernisasi total pada mesin, radar, dan sistem senjata. Hasilnya adalah Liaoning (Type 001).
- Produksi Mandiri setelah menguasai cetak biru Liaoning, China membangun Shandong (Type 002) yang 100% buatan lokal dengan desain yang disempurnakan.
- Kini, Tiongkok sudah memiliki Fujian (Type 003) yang menggunakan teknologi peluncur elektromagnetik (EMALS), sejajar dengan teknologi Amerika Serikat.
Jejak India, Evolusi dari Inggris ke Domestik
India memiliki sejarah panjang mengoperasikan kapal induk bekas Inggris (HMS Hercules dan HMS Hermes).
- Loncatan Besar: India membeli Admiral Gorshkov dari Rusia (kemudian menjadi INS Vikramaditya). Proses modifikasi di Rusia yang memakan waktu lama dan biaya membengkak memberi pelajaran berharga bagi teknisi India tentang kompleksitas dek penerbangan.
- Produksi Mandiri: Bermodalkan pengalaman mengoperasikan kapal bekas, India membangun INS Vikrant di Galangan Kapal Cochin (CSL). Meskipun desainnya dibantu konsultan luar, konstruksi baja, integrasi sistem, dan manajemen proyek
Rencana PT PAL: Menuju Era LHD 238 Meter dengan Target Mulai Produksi 2027
Indonesia dipastikan sudah dalam proses mengambil alih kapal induk bekas Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (551), melalui skema hibah/pembelian yang diproyeksikan tiba sebelum Oktober 2026.
Di sisi lain, Indonesia melalui PT PAL juga memilih jalur yang lebih realistis namun strategis dengan membangun Landing Helicopter Dock (LHD) ketimbang kapal induk pesawat tempur konvensional.
Mengapa LHD?
LHD jauh lebih multifungsi bagi negara kepulauan. Selain fungsi militer, LHD sangat efektif untuk operasi kemanusiaan (HADR), rumah sakit terapung, dan pusat komando saat bencana alam.
Kesiapan PT PAL dan Spesifikasi Target 2027
- Fondasi Teknologi: Sejak kunjungan Anda di 2010, PT PAL telah sukses membangun kelas Landing Platform Dock (LPD) seperti kelas Makassar dan Sudirohusodo. Membangun LHD adalah evolusi logis dari LPD yang diperbesar.
- Dimensi & Kapasitas: Target panjang 238 meter menempatkan kapal ini hampir setara dengan kelas Canberra Australia atau Izumo Jepang. Kapasitas 16 helikopter atau pesawat VTOL (seperti F-35B jika Indonesia memilikinya di masa depan) akan memberikan efek gentar yang signifikan di kawasan.
- Rencana Pengerjaan (2027): Tahun 2027 menjadi target mulai konstruksi (first steel cutting). PT PAL saat ini terus memodernisasi fasilitas galangan di Surabaya, termasuk pembangunan dry dock yang mampu menampung kapal berukuran raksasa.
- Transfer Teknologi (ToT): Mengacu pada pembelian kapal bekas (seperti isu Giuseppe Garibaldi dari Italia), Indonesia biasanya menyertakan klausul ToT. Insinyur PT PAL akan mempelajari sistem manajemen tempur dan integrasi dek penerbangan dari kapal tersebut untuk diterapkan pada proyek LHD domestik.
Jika proyek 2027 ini berjalan mulus, Indonesia akan memiliki kapal perang terbesar di Asia Tenggara. Ini bukan sekadar tentang "pamer kekuatan", tapi tentang kemampuan mobilitas pasukan dan logistik di wilayah laut yang sangat luas.[*]
Editor : Hari Puspita