Kepala Lingkungan Bilukpoh Kangin I Komang Suabawa mengatakan, sebanyak 5 KK yang masih tinggal di pengungsian karena rumahnya masih belum bersih total dan belum ditempati. "Warga yang rumahnya hilang dan pengungsi lain sudah tinggal di rumah kelurganya dan rumah warga lain yang ada tempat kosong," ujarnya.
Meskipun masih ada warga yang tinggal di pengungsian, dapur umum sudah tidak beroperasi lagi. Warga memilih untuk memasak sendiri untuk kebutuhan makan keluarganya. Warga menggunakan kompor yang sudah disediakan di posko pengungsian yang sebelumnya digunakan untuk dapur umum. "Warga memasak untuk makan sehari - hari, sembako dari bantuan yang ada," ungkapnya.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jembrana I Made Sapta Budiarta mengatakan, selatan tiga pekan pascabencana aktivitas warga susah berangsur normal. Warga yang sebelumnya mengungsi sudah kembali ke rumah masing- masing. Saat ini hanya sebanyak 5 KK yang masih tinggal di pengungsian. "Warga sudah kembali ke rumah masing-masing," ungkapnya.
Menurutnya, dari total 10 dapur umum yang sebelumnya dioperasikan untuk mencukupi kebutuhan warga terdampak banjir bandang dan dilayani oleh relawan sudah tidak ada lagi. "Dapur umum tetap ada, hanya warga yang mengungsi menggunakan. Bukan petugas dan relawan yang memasak untuk pengungsi," jelasnya.
Seperti diketahui, banjir yang terjadi pada 16-17 Oktober lalu, terjadi di 35 titik tersebar di 18 desa dan kelurahan di Jembrana. Sekitar 3889 KK terdampak banjir sebagian besar mengungsi karena rumah terendam banjir. Bahkan ada puluhan rumah hilang diterjang banjir.
Karana banjir bandang tersebut, Pemerintah Kabupaten Jembrana menetapkan status keadaan darurat bencana selama 14 hari. Kemudian status keadaan darurat bencana diperpanjang hingga bulan Desember mendatang. (bas/rid) Editor : M.Ridwan