NEGARA– Ratusan hektare lahan persawahan di Jembrana mengalami kekeringan. Ancaman gagal panen kini di depan mata. Opsi yang tersedia hanya mengoperasikan sumur bor. Tapi petani tidak bisa berbuat banyak, karena biaya mengoperasikan mesin sumur cukup mahal.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemantauan dan pendataan lahan pertanian yang berpotensi mengalami kekeringan di musim kemarau ini. “Dari bidang pertanian sudah turun untuk melakukan pendataan dan penanganan,” jelasnya, Rabu (15/8).
Dari total 6.636 hektare sawah di Jembrana, seluas 775 hektar diantaranya terancam kekeringan. Pemicunya adalah dampak El Nino. Ancaman kekeringan ini menyebar di sejumlah subak di Kecamatan Negara dan Kecamatan Mendoyo.
Di Subak Pangkung Jelepung I misalnya. Dari luas tanam 28 hektare, yang terancam kekeringan 26 hektar dan dua hektare diantaranya sudah pasti mengalami kekeringan ringan.
Sutama menambahkan, sebelum memasuki musim kemarau panjang, pihaknya telah menyebarkan surat edaran kepada seluruh subak di Jembrana. Pihaknya meminta agar petani mempertimbangkan mengganti pola tanam. Salah satunya mengubah komoditas dari padi menjadi palawija, yang notabene lebih irit air.
Khusus soal kekeringan yang mengancam, pihaknya telah meminta petani mengoptimalkan pemanfaatan sumur bor. Ia juga berjanji petani bisa mengakses pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite, dengan syarat membawa rekomendasi dari desa. (*)
Editor : Donny Tabelak