NEGARA,radarbali.id - Lahan pertanian seluas 10 hektar di Jembrana mengalami puso akibat kekeringan. Kekeringan diprediksi akan meluas karena dampak dari fenomena El Nino, sehingga lahan petanian yang gagal panen dan gagal tanam juga diprediksi meluas.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Wayan Sutama mengatakan, saat ini sekitar 178,25 hektare lahan pertanian padi di empat subak Jembrana terancam kekeringan dampak musim kemarau disertai fenomena El Nino.
Bahkan dari total lahan tersebut sudah mengalami gagal panen sekitar 10 hektar. Karena gagal panen tersebut, kerugian yang dialami petani diperkirakan sekitar 75 juta. "Rata-rata tanaman padi yang alami puso berumur 45 hari," ungkapnya.
Kepala Bidan Pertanian, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Komang Ngurah Arya Kusuma menambahkan, lahan pertanian yang saat ini menanam padi di Jembrana saat ini seluas 1.946 hektar. Seluas 178,25 hektare lahan pertanian tanaman padi yang terancam kekeringan.
Kondisi kekeringan ini sebenarnya sudah umum terjadi setiap musim kemarau yang membuat pasokan air untuk irigasi menurun. "Saat ini kemarau panjang diperparah dengan fenomena El Nino," terangnya.
Sebagai upaya antisipasi, sejak bulan Juni lalu mengirim surat edaran kepada seluruh subak yang ada di Jembrana. Dalam surat edaran disebutkan, agar tidak gagal panen adalah memanfaatkan mesin air bor dengan BBM subsidi pemerintah. Sehingga potensi puso tidak semakin meluas.***
Editor : M.Ridwan