Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Musim Hujan Belum Tiba, BPBD Jembrana Sudah Mulai Mitigasi Bencana Longsor dan Banjir, Ini Penyebabnya

Muhammad Basir • Rabu, 8 November 2023 | 01:05 WIB
BERSIAGA : Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Putu Agus Artana Putra. (foto: m.basir/radar bali)
BERSIAGA : Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Putu Agus Artana Putra. (foto: m.basir/radar bali)

NEGARA, Radar Bali.id - Musim kemarau hampir berakhir, pertengahan bulan November ini sudah mulai musim hujan. Potensi bencana dampak saat musim hujan terjadi longsor dan banjir juga mengancam.

Sehingga perlu dilakukan mitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana yang akan terjadi.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, menghadapi musim hujan yang diperkirakan terjadi pada pertengahan November ini, pihaknya sudah melakukan mitigasi bencana yang berpotensi terjadi. "Kami sudah datang ke desa -desa untuk mitigasi bencana," jelasnya, Senin (6/11/2023).

Menurutnya, pada musim hujan nanti ada dua potensi dampak bencana yang terjadi, yakni banjir dan longsor. Banjir terjadi disebabkan banyak faktor, mulai dari lingkungan yang kotor dengan sampah pada saluran air sehingga menyumbat dan juga faktor kondisi tanah yang tidak ada saluran pembuangan air yang optimal.

Pihaknya sudah menekankan pada desa, terutama yang rawan banjir agar membersihkan lingkungan yang kotor, terutama di saluran pembuangan air agar tidak tersumbat pada saya banjir dan menyebabkan banjir.

Selain itu, untuk desa yang rawan banjir akan ditangani secara khusus. Bahkan, nantinya jika dibutuhkan mesin sedot air, akan ditempatkan di kantor desa sehingga ketika terjadi banjir bisa langsung ditangani.

Sebanyak 8 mesin sedot air disiagakan di setiap desa yang membutuhkan. "Kalau memang dibutuhkan alat mesin sedot air akan di tempatkan di desa. Lihat dulu kebutuhan masing masing desa," ungkapnya.

Berdasarkan data bencana banjir yang terjadi sebelumnya, tersebar di sejumlah desa dan kelurahan di lima kecamatan Jembrana. Diantaranya, Desa Melaya, Kaliakah, Loloan Barat, Loloan Timur, Pemganbengan, Tegalcangkring, Penyaringan, Yehembang, Pekutatan dan Gumrih.

 "Banjir terjadi di daerah yang berada di bantaran sungai," ujarnya.

Selain banjir, longsor juga berpotensi besar terjadi. Karena pada saat musim kemarau banyak tanah yang retak, sehingga ketika hujan air masuk pada retakan tanah membuat tanah gerak dan longsor.

Daerah yang rawan terjadi longsor di Jembrana, di wilayah utara karena memiliki kontur tanah berbukit dan tebing. Daerah yang rawan longsor, berdasakan data kejadian sebelumnya, diantaranya daerah Desa Manggisari, Gumbrih, Yehembang, Pergung, Batu Agung, Berangbang dan daerah lain dengan kontur tanah berbukit.

Koordinator Analisa dan Prakiraan Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bali Made Dwi Wiratmaja mengatakan, pihaknya memang sudah memperkirakan terjadi hujan.

Ada peluang hujan di beberapa wilayah, sesuai dgn prakiraan musim hujan yang nanti akan mulai di pertengahan November.

"Kalau di Jembrana beberapa wilayah di Melaya, Negara, Jembrana dan Mendoyo utamanya bagian utara yang sudah mulai terpantau hujan," ujarnya.

Saat ini, sudah ada tanda-tanda musim peralihan musim. Diantaranya awan hujan, hanya saja hujan di spot atau lokasi tertentu, belum merata.

"Beberapa tanda musim peralihan diantaranya hujan dgn intensitas sedang hingga lebat dengan tempo singkat dan terkadang disertai petir atau angin kencang, cuma hujan nya spot-spot belum merata sekali," terangnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#siaga bencana #jembrana #musim hujan #bpbd