NEGARA, Radar Bali.id - Kasus rabies di Jembrana, diduga disebabkan anjing liar yang tidak pernah divaksin rabies secara rutin.
Sehingga potensi terinfeksi rabies atau penyakit anjing gila cukup besar. Karena itu, perlu dilakukan tindakan terhadap anjing liar sebelum kontak dengan anjing yang bertuan walaupun diliarkan.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah dengan menangkap dan memvaksin. Bila perlu, dilakukan eliminasi secara selektif untuk memastikan tidak ada penularan rabies dari wilayah sekitar anjing liar tersebut berada.
“Sebagian besar penularan rabies ini dari anjing liar, jadi sumber masalah ini perlu ditangani dulu,” kata Pelaksana tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Made Yasa.
Menurutnya, tindakan terhadap anjing liar di wilayah Jembrana ini sebenarnya sudah dialkukan, namun perlu ditingkatkan lagi. Selain itu, tindakan eliminasi anjing liar hanya dilakukan oleh petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan melalui Bidang Kesehatan Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Padahal dalam penanganan rabies ini, bukan hanya tanggungjawab dari pemerintah. Semua pihak, mulai dari pemerintah desa dan masyarakat umum juga memiliki peran tidak kalah penting.
Misalnya ketika ditemukan anjing liar yang dicurigai terinfeksi rabies, segera dilakukan tindakan mengamankan. “Tidak perlu menunggu ada kasus positif untuk melakukan tindakan, kalau ada anjing liar terindikasi rabies langsung ambil tindakan,” ujarnya.
Selain itu, vaksinasi juga perlu digencarkan. Namun dalam proses vaksinasi ini juga perlu dilakukan pendataan ulang estimasi populasi hewan penular rabies, khusunya anjing.
Pendataan dilakukan oleh masing - masing desa untuk mengetahui secara pasti estimasi populasi yang sebenarnya. Karena data estimasi populasi yang terdata selama ini sebanyak 44.076 ekor anjing diduga masih kurang akurat.
Data mengenai estimasi populasi ini, mempengaruhi cakupan vaksinasi. Apabila data yang kurang tepat, atau lebih tinggi dari kenyataannya maka cakupan akan lebih rendah padahal sudah hampir semua HPR sudah divaksin. "Akurasi data estimasi ini tidak hanya untuk mengejar cakupan vaksinasi, tetapi untuk mengetahui secara pasti jumlah HPR terutama anjing yang sebenarnya," tegasnya. [*]
Editor : Hari Puspita