NEGARA, Radar Bali.id - Kekeringan disertai krisis air pada musim kemarau di Jembrana tahun ini, lebih ringan dibandingkan dengan tahun lalu.
Terdata dari permohonan air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana yang lebih sedikit dibandingkan tahun 2023 lalu.
Kepala Pelaksana BPD Jembrana I Putu Agus Artana Putra mengatakan, distribusi air bersih kepada warga di sejumlah desa yang mengalami kekeringan pada tahun 2023 lalu sebanyak 542 liter.
Tersebar di seluruh Jembrana yang mengalami kekeringan, distribusi air sejak bulan Juli hingga akhir tahun 2023. ”Tahun ini lebih sedikit permohonan air bersih,” ujarnya, Jumat (6/9/2024).
Jumlah wilayah yang mengalami krisis air lebih sedikit dibandingkan kejadian tahun 2023 lalu.
Jumlah distribusi air dari awal tahun sampai bulan September ini sebanyak 89.000 liter dari tujuh desa atau kelurahan mengajukan permohonan air bersih kepada BPBD Jembrana.
Distribusinya tidak langsung kepada warga, tetapi melalui bak penampungan air bersih yang dipasang BPBD Jembrana dititik strategis yang mudah dijangkau warga. ”Hanya lokasi tertentu, bukan seluruh desa yang mengalami kekeringan,” ujarnya.
Pihaknya berharap warga yang mengalami krisis air bersih, untuk melaporkan kepada pemerintah desa. Nantinya, pihak desa yang menyampaikan kepada BPBD Jembrana untuk dilakukan asesmen dan segera ditindaklanjuti dengan distribusi air bersih.
Distribusi air bersih ini merupakan upaya jangka pendek, tidak sepenuhnya efektif bisa mengatasi sepenuhnya kekurangan air bersih. Karana itu perlu ada solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan. ”Kami sifatnya membantu masyarakat yang memang membutuhkan, sebagai solusi mengatasi krisis air bersih,” terangnya.
Kekeringan saat kemarau tidak hanya masyarakat terdampak mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, sektor pertanian juga mengalami kekeringan karena pasokan air yang turun drastis.
Meskipun sempat terjadi hujan, belum mampu mengatasi kekeringan air di pertanian. [*]
Editor : Hari Puspita