Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

132 Sumur Bor Pertanian di Jembrana Dinilai Masih Kurang untuk Cegah Sawah Kekeringan

Muhammad Basir • Rabu, 6 Agustus 2025 | 20:15 WIB
TIDAK MENYALA : Bupati Jembrana i Made Kembang Hartawan saat sidak menemukan sumur bor tidak menyala di Desa Tegal Badeng Barat. (foto:Pemkab Jembrana)
TIDAK MENYALA : Bupati Jembrana i Made Kembang Hartawan saat sidak menemukan sumur bor tidak menyala di Desa Tegal Badeng Barat. (foto:Pemkab Jembrana)

 

NEGARA, Radar Bali.id - Sebanyak 132 sumur bor untuk pertanian di seluruh wilayah Jembrana, dinilai masih kurang untuk mencukupi kebutuhan luas pertanian yang sering kekeringan air, terutama pada saat musim kemarau.

Karena itu, setiap tahun ada puluhan usulan sumur bor dari subak, sebagian disetujui oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana Gede Sugianta, jumlah sebanyak 132 sumur bor untuk pertanian di seluruh Jembrana ini masih kurang dari jumlah kebutuhan ideal. ”Pertanian di Jembrana butuh lebih banyak sumur bor,” ungkapnya, Selasa (5/8/2025).

Pertanian yang membutuhkan paling bayak sumur bor, wilayah Kecamatan Jembrana, Negara dan Malaya. Lahan pertanian di tiga kecamatan ini sebagian besar merupakan pertanian tadah hujan dan irigasi yang belum memadai, sehingga memerlukan banyak sumur bor ketika terjadi keseringan.

Pada tahun 2025 ini, sebanyak 10 sumur bor baru dibangun BWS tersebar di sejumlah lahan pertanian di Jembrana. Dari 10 titik sumur bor ini,  5 sumur sudah selesai tahap pengeboran, tinggal instalasi dari PLN karena menggunakan tenaga listrik. ”Sisanya 5 saat ini sedang proses tender di Balai,” ujarnya.

Masih ada 20 usulan sumur bor dari sejumlah subak di Jembrana. Artinya, masih banyak subak yang membutuhkan sumur bor untuk menjadi sumber air utama ketika terjadi kemarau atau kekeringan.

Terkait dengan sumur bor di pertanian, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan melakukan inspeksi mendadak (sidak) sumur bor yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana, Senin (4/8) lalu. Sidak ini untuk melihat secara langsung kondisi sumur bor, baik itu yang terdapat kerusakan maupun sumur bor yang tidak aktif atau belum berfungsi.

Bupati Kembang menyebut di Jembrana terdapat 132 sumur bor baik sumur dalam maupun sumur dangkal yang dibuat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui BWS. Sumur bor tersebut sudah diserahkan kepada subak.

”Jika kedapatan ada yang rusak, segera disampaikan, nanti kita akan mengusulkan ke Balai, untuk segera mendapat perbaikkan. Termasuk jika ada usulan sumur bor baru juga,” ujar Bupati Kembang, Senin (4/8/2025) lalu.

Dalam sidak tersebut, diyenukan juga sumur dangkal, sumur dalam khususnya yang tidak aktif seperti yang ada yang di Desa Tegal Badeng Barat.

Mengenai sumur bor tidak aktif, bupati akan koordinasikan ke Balai, agar bisa diaktifkan sehingga mampu meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang ada di Desa Tegal Badeng Barat. ”Sumur bor menjadi solusi jangka pendek dalam membatu subak-subak yang ada di Jembrana dalam meningkatkan produktivitas lahan pertanian,” terangnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#sumur bor #persawahan #pengairan #pertanian #kekeringan