NEGARA, Radar Bali.id - Rencana pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan menjadi proyek strategis nasional (PSN) menimbulkan kekhawatiran baru bagi warga pesisir di Desa Banyubiru, Kabupaten Jembrana.
Selain dampak positif berupa pertumbuhan ekonomi, warga khawatir proyek ini akan memperparah abrasi yang sudah mengikis daratan selama bertahun-tahun.
"Kami sangat mendukung pengembangan PPN Pengambengan ini, tapi kami juga berharap ada program tambahan untuk desa kami. Jangan sampai kami hanya merasakan dampak negatifnya saja," ujar Perbekel (Kepala Desa) Banyubiru, I Komang Yuhartono, pada Minggu (21/9/2025).
Kekhawatiran ini muncul karena Desa Banyubiru, khususnya Banjar Pebuahan, merupakan desa tetangga yang diprediksi akan terdampak secara tidak langsung oleh proyek ini. Yuhartono menjelaskan bahwa saat sosialisasi pada tahun 2023, perwakilan Komisi V DPR RI dan Kementerian Pekerjaan Umum sendiri mengakui bahwa pemecah ombak di PPN Pengambengan telah mengubah arus laut dan menjadi salah satu penyebab abrasi di Pantai Pebuahan.
Daratan Terus Tergerus, Senderan Pantai Belum Cukup
Meskipun sebagian kawasan pantai, tepatnya 780 meter dari total 2,1 kilometer, sudah dibangun senderan pengaman, masih banyak daratan yang belum terlindungi dan kini kondisinya hancur digerus ombak.
Menurut Yuhartono, pengembangan PPN Pengambengan secara administrasi hanya melibatkan tiga desa, yaitu Pengambengan, Tegalcangkring, dan Cupel. Sementara Desa Banyubiru hanya menjadi desa tetangga yang dilintasi akses menuju pelabuhan. Oleh karena itu, ia telah mengajukan permohonan agar pemerintah dan pihak terkait memberikan program bantuan khusus untuk desa mereka, terutama terkait masalah kelautan dan perikanan.
Proyek Strategis dengan Potensi Besar
PPN Pengambengan direncanakan akan dibangun di atas lahan seluas 36 hektare dan dibagi menjadi tiga zona utama: perkantoran, area kapal, dan kawasan industri. Tahap pembangunan akan dimulai pada tahun 2026 dan ditargetkan selesai pada tahun 2028.
Setelah rampung, pelabuhan ini diproyeksikan mampu menampung 1.600 kapal, meningkat drastis dari kapasitas saat ini yang hanya 1.273 kapal. Produktivitas tangkapan ikan pun diperkirakan melonjak dari 61.300 ton menjadi 124.000 ton per tahun. Meski demikian, di balik janji pertumbuhan ekonomi tersebut, ada harapan besar dari warga Banyubiru agar dampak lingkungan juga menjadi perhatian utama.[*]
Editor : Hari Puspita