NEGARA, Radar Bali.id – Harapan warga pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Jembrana, untuk melihat penanganan abrasi berlanjut pada tahun 2026 nampaknya harus tertunda.
Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana terus melobi pusat, informasi terbaru menunjukkan alokasi anggaran kemungkinan besar baru tersedia pada tahun 2027.
Kondisi abrasi di Pantai Pebuahan memang kian mengkhawatirkan. Dari total panjang abrasi yang mencapai 2,1 kilometer, baru sekitar 780 meter yang berhasil dipasangi senderan pengaman pada tahun 2024 lalu.
Proposal Sudah di Pusat, Namun Terkendala Anggaran
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Jembrana, Gede Sugianta, menegaskan pihaknya tidak tinggal diam. Proposal usulan pembangunan pengaman pantai telah disodorkan ke Pemerintah Pusat.
"Kami terus memonitor kelanjutan proposal ini dan berkomunikasi intens dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida. Kami usahakan agar segera terwujud," ujar Sugianta, Senin (22/12/2025).
Target Realistis Tahun 2027
Meski Pemkab Jembrana berharap ada keajaiban di tahun depan, data sementara menunjukkan belum ada pos anggaran untuk pengaman pantai di Jembrana untuk tahun 2026. Proyek besar tersebut diprediksi baru akan berlanjut pada tahun 2027.
Rencananya, anggaran 2027 tersebut akan difokuskan pada dua titik krusial:
- Lanjutan Pantai Pebuahan: Menuntaskan sisa sengkilitan pantai yang belum ter-cover proyek 2024.
- Pantai Rambut Siwi: Pembangunan pengaman pantai baru untuk menahan laju abrasi di kawasan tersebut.
Satu Tahun Tanpa Pembangunan
Kekosongan proyek pengamanan pantai ini dirasakan cukup panjang oleh warga. Pasalnya, sepanjang tahun 2025 ini memang tidak ada pembangunan senderan baru di titik-titik abrasi Jembrana.
Walau demikian, Sugianta menekankan bahwa pemerintah daerah masih terus berupaya mencari celah agar penanganan bisa dipercepat.
"Informasi sementara memang (dilanjutkan) tahun 2027, tetapi kami tetap berusaha dan berharap agar pembangunan, terutama di Pebuahan yang abrasinya parah, bisa ditarik ke tahun 2026," pungkasnya.
Hingga saat ini, warga di sepanjang pesisir Jembrana hanya bisa berharap cuaca ekstrem tidak memperburuk kerusakan lahan mereka sebelum bantuan beton pengaman benar-benar datang.[*]
Editor : Hari Puspita