NEGARA, Radar Bali.id – Jalur utama menuju Pelabuhan Gilimanuk berubah menjadi "lautan besi" pada Minggu (15/3/2026). Ribuan pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa terjebak dalam kemacetan ekstrem yang dijuluki sebagai salah satu "mudik horor" terparah dalam sejarah transportasi di Bali.
Hingga Minggu siang, ekor antrean kendaraan dilaporkan telah mencapai depan Hotel Jimbarwana di pusat Kota Negara. Titik ini berjarak fantastis, yakni sekitar 31 kilometer dari gerbang pelabuhan.
Lonjakan volume kendaraan tahun ini dipicu oleh fenomena unik: pertemuan arus mudik Idul Fitri 1447 H dengan persiapan Hari Raya Nyepi. Masyarakat memilih berangkat lebih awal guna menghindari penutupan total operasional pelabuhan yang dijadwalkan pada 19–20 Maret 2026 mendatang.
Kepadatan sejatinya sudah mulai "menggigit" sejak Jumat malam. Namun, pada Minggu dini hari, situasi kian tak terkendali.
"Sepanjang saya tinggal di sini, belum pernah lihat kemacetan sampai di depan rumah. Ini yang paling parah," ungkap Ayu Anita, warga Desa Candikusuma. Ia bahkan menceritakan aksi warga sekitar yang bahu-membahu mencarikan nasi bagi penumpang bus yang kelaparan karena terjebak macet total selama belasan jam.
Perjuangan di Jalur Lambat
Kisah pilu juga datang dari Witari, pemudik asal Negara yang hendak menuju Jawa Barat. Berangkat pukul 09.00 Wita, ia baru menyentuh wilayah GOR Melaya pada pukul 14.44 Wita.
"Menempuh jarak 16 kilometer saja butuh waktu enam jam. Lumayan lama tidak bergerak, tapi harus tetap sabar demi anak-anak," tuturnya tegar di tengah terik matahari Jembrana.
Respon Cepat Polda Bali & ASDP
Menanggapi situasi darurat ini, Kapolres Jembrana AKBP Kadek Citra Dwi Suparwati menyatakan bahwa seluruh personel telah diterjunkan untuk melakukan diskresi dan rekayasa lalu lintas.
"Kami imbau pemudik jangan melawan arus atau mencoba mendahului di jalur utama. Ikuti antrean agar perjalanan tetap aman," tegas AKBP Citra.
Di sisi lain, pihak ASDP Indonesia Ferry melakukan langkah luar biasa dengan menambah armada. Dari pola normal 28 kapal, kini dikerahkan 35 kapal yang beroperasi nonstop 24 jam.
"Kami menerapkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) pada kapal-kapal tertentu agar siklus pelayanan lebih cepat. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar Corporate Secretary ASDP, Windy Andale. [*]
Editor : Hari Puspita