NEGARA, Radar Bali.id – Menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi mulai menyengat pada April 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana pun mengambil langkah "curi start".
Sejumlah persiapan mulai dimatangkan guna memastikan warga di zona merah krisis air tidak kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, mengungkapkan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh "alat tempur" dalam kondisi prima. Armada mobil tangki yang menjadi ujung tombak distribusi air bersih kini telah menjalani pengecekan teknis dan pembersihan total.
"Kami tidak mau menunggu bencana datang baru bergerak. Mobil tangki sudah kami bersihkan dan cek mesinnya agar siap meluncur kapan saja ada permintaan bantuan dari masyarakat," tegas Agus Artana.
Mobilisasi Tandon Air ke Titik Strategis
Tak hanya armada, BPBD juga mulai mengumpulkan kembali tandon-tandon penampungan air yang sebelumnya tersebar di berbagai lokasi pascabencana. Tandon-tandon ini akan disiagakan di kantor BPBD sebelum nantinya diterjunkan ke titik-titik strategis di desa-desa terdampak.
Langkah ini diambil agar saat puncak kemarau tiba, warga tidak perlu menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. "Semua penampungan air kami kumpulkan dan fungsikan kembali. Begitu ada laporan kekeringan, tandon ini langsung kami sebar ke lokasi yang mudah diakses warga," jelasnya.
Pemetaan Berdasarkan Data KRB
Berdasarkan prakiraan dari BMKG dan kajian data Kawasan Rawan Bencana (KRB), BPBD telah mengantongi daftar desa yang masuk kategori rawan kekeringan. Wilayah-wilayah ini umumnya memiliki ketergantungan tinggi pada curah hujan dan minim sumber air permukaan.
Sebagai langkah konkret, BPBD Jembrana kini memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa untuk mempercepat alur informasi. Agus Artana mengimbau masyarakat untuk segera melapor melalui aparat desa jika sumber air di wilayahnya mulai mengering.
"Kami siaga penuh. Baik itu musim hujan dengan potensi banjirnya, maupun kemarau dengan kekeringannya. Harapan kami, dengan kesiapsiagaan sejak dini, dampak krisis air di Jembrana bisa kita minimalisir sekecil mungkin," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita