NEGARA, Radar Bali.id – Memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana turun langsung ke sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bumi Makepung.
Baca Juga: Belasan Ribu Peserta Didik Baru di Badung Ikuti MPLS Ramah 2026/2027
Petugas memberikan sosialisasi, edukasi, hingga simulasi mitigasi bencana kepada para siswa baru. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata menanamkan budaya sadar bencana sejak usia sekolah.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi ini sengaja menyasar peserta didik yang baru memasuki jenjang SMP.
Selain untuk mengenalkan tugas pokok dan fungsi BPBD, para siswa juga dibekali pengetahuan dasar mengenai potensi kebencanaan yang ada di Kabupaten Jembrana beserta langkah penyelamatan diri yang taktis.
”Melalui kegiatan ini kami ingin membangun pemahaman sejak dini bahwa bencana bisa terjadi kapan saja. Karena itu, anak-anak harus mengetahui apa yang harus dilakukan agar mampu menyelamatkan diri sebelum petugas datang,” ujar Agus Artana di sela-sela memantau jalannya kegiatan pada hari Sabtu (18/7/2026) Wita.
Dalam sosialisasi tersebut, tim kedaruratan BPBD memaparkan berbagai potensi bencana yang rawan terjadi di Jembrana, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga musibah kebakaran.
Para siswa baru diajarkan cara mengenali tanda-tanda awal bencana, pentingnya menjaga ketenangan saat situasi darurat, hingga cara membaca jalur evakuasi dan titik kumpul yang benar.
Tak sekadar teori, para siswa juga langsung diajak mempraktikkan simulasi penyelamatan diri saat gempa serta memahami konsep pengurangan risiko bencana melalui perilaku sederhana di sekolah maupun rumah. Edukasi interaktif ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang tanggap, sigap, dan tidak mudah panik.
Agus Artana menegaskan, lingkungan sekolah menjadi salah satu prioritas yang harus memiliki standar kesiapsiagaan tinggi karena menampung ratusan hingga ribuan warga sekolah setiap harinya. Dengan bekal pengetahuan ini, siswa diharapkan bisa menjadi agen informasi yang menyebarkan edukasi kebencanaan ke lingkungan keluarga terdekat mereka.
Menurutnya, pendidikan kebencanaan tidak boleh hanya menyasar orang dewasa. Justru anak-anak harus dibekali sejak dini agar memiliki insting bertahan hidup dan budaya aman yang kuat. Pihaknya berharap pasca-MPLS ini, para siswa baru memiliki kesiapan mental dan fisik yang matang.
”Ketika terjadi keadaan darurat mereka tahu bagaimana cara melindungi diri, membantu proses evakuasi sesuai kemampuan, dan tidak mudah percaya informasi hoaks yang belum tentu benar," tegasnya. Ke depan, BPBD Jembrana berkomitmen akan terus menggencarkan edukasi kebencanaan ini ke berbagai satuan pendidikan secara bertahap.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali