
Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
KITA sering paling keras pada diri sendiri. Saat gagal langsung menyalahkan. Saat sedih dianggap lemah. Padahal suara itu bukan selalu suara kita.
Re-parenting adalah cara belajar menjadi orang tua yang baik untuk diri sendiri. Istilah ini sederhana. Kita mengasuh ulang diri dengan cara yang lebih sehat.
Setiap orang tumbuh dengan cara dididik yang berbeda. Ada yang besar dengan banyak dukungan. Ada juga yang tumbuh dengan banyak tuntutan, kritik, atau bahkan diabaikan.
Apa yang kita terima waktu kecil akan terekam. Tanpa sadar kita mengulanginya saat dewasa. Gagal sedikit langsung dimarahi dalam hati. Capek dibilang manja. Sedih dianggap berlebihan.
Re-parenting hadir untuk memutus pola itu. Tujuannya bukan untuk menyalahkan orang tua. Tujuannya agar kita bisa hidup lebih tenang dan tidak menyakiti diri sendiri lagi.
Langkah pertama adalah menyadari suara di kepala kita. Saat muncul pikiran “kamu payah”, berhentilah sejenak. Tanyakan, ini benar pendapat saya atau hanya gema dari dulu.
Langkah kedua, belajar jadi pendengar yang baik untuk diri. Sama seperti menenangkan anak kecil yang jatuh. Kita juga berhak dapat kalimat “tidak apa-apa, kamu sudah berusaha”.
Langkah ketiga, penuhi kebutuhan yang dulu terlewat. Butuh diapresiasi? Beri apresiasi untuk diri. Butuh istirahat? Izinkan tubuh beristirahat. Butuh dimengerti? Tuliskan isi hati di jurnal.
