NEGARA, Radar Bali.id– Musim kemarau yang terus berlangsung mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Jembrana.
Kelurahan Pendem menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Menurunnya debit sumber air membuat ratusan kepala keluarga (KK) kesulitan memenuhi kebutuhan air harian.
Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Jembrana mengintensifkan penyaluran bantuan air bersih, khususnya ke Lingkungan Pancardawa dan Dewasana.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra menyatakan, hasil asesmen mencatat ada 35 KK di Lingkungan Dewasana yang mengalami krisis air akibat debit air yang merosot dalam dua pekan terakhir. BPBD telah memasang satu unit tandon air dan menyalurkan air secara berkala. Hal serupa dilakukan di Lingkungan Pancardawa sejak Sabtu lalu.
”Total air bersih yang telah kami distribusikan di wilayah Kelurahan Pendem mencapai sekitar 30 ribu liter,” jelas Agus Artana.
Guna memperkuat distribusi, PMI Jembrana turut mengerahkan satu unit mobil tangki berkapasitas 5.000 liter untuk mengisi lima tandon dan dua bak penampungan warga di empat titik lokasi.
Kepala Markas PMI Jembrana, I Wayan Wikrama Wardana menegaskan bantuan akan terus digelontorkan selama kemarau berlangsung. Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September, dan dampaknya berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. Selain Pendem, wilayah rawan kekeringan lainnya meliputi Desa Manistutu dan Yehembang.
Sementara itu, Kepala Lingkungan Pancardawa, I Putu Partikayasa mengungkapkan, sekitar 200 KK di wilayahnya sudah mengalami kekeringan selama hampir satu bulan. Untuk minum, warga terpaksa membeli air isi ulang, sedangkan untuk MCK (mandi, cuci, kakus) warga harus berjalan kaki sejauh 100 meter menuju sungai.
”Kami berharap ada solusi jangka panjang. Selama ini kami sudah mengusulkan pembangunan empat titik sumur bor agar setiap musim kemarau warga tidak lagi mengalami krisis air bersih,” harap Partikayasa. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali