Bangkai paus sperma itu telah mengeluarkan bau busuk, Kamis (6/4/2023). Meski demikian, puluhan warga yang penasaran tetap mengerumuni bangkai paus itu. Tidak hanya melihat, warga juga berupaya mengabadikan momen langka itu menggunakan smartphonenya.
Sekitar pukul 12.00, dua alat berat tiba di Pantai Yeh Malet. Alat berat itu didatangkan untuk mengevakuasi salah satu mamalia yang dilindungi itu ke pinggir pantai sehingga para dokter hewan dapat melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian paus tersebut tanpa kawatir dihantam ombak yang siang itu mulai membesar.
Memiliki panjang sekitar 18,2 meter dengan berat tonan, petugas alat berat harus berjibaku mengevakuasi paus tersebut ke pinggir pantai. Sekitar pukul 14.00, bangkai paus sperma itu baru bisa dievakuasi ke pinggir laut yang kemudian dilanjutkan dengan tindakkan nekropsi oleh sebanyak tiga dokter hewan dibantu enam mahasiswa.
Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar, Permana Yudiarso mengungkapkan ada sejumlah kemungkinan yang menyebabkan paus sperma itu terdampar dan mati.
Dugaan pertama dapat disebabkan karena sakit, kemudian dapat juga akibat mengingat minggu lalu telah terjadi badai siklon tropis, gempa yang beberapa lalu terjadi, badai matahari yang terjadi akhir Maret, dan kesehatan lalu seperti sampah yang mencemari laut. “Untuk itu dilakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian dari paus ini. Paling cepat hasil lab dapat diketahui sekitar satu bulan,” ungkapnya.
Setelah nekropsi dilakukan, bangkai paus akan dikubur di tempat yang aman. Sebab kerangka paus itu rencananya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan edukasi. “Paus ini kandungan lemaknya banyak sehingga butuh waktu paling cepat enam bulan sampai satu tahun sehingga hilang dan tinggal belulangnya. Nah ini yang kami harus pastikan agar tidak sampai dicuri,” tandasnya. [dewa ayu pitri arisanti/radar bali]
Editor : Hari Puspita