Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Perang Pandan: Bukan Sekadar Tradisi Desa Tenganan Pegringsingan, Penghormatan Pada Dewa Meski Berdarah-darah

Zulfika Rahman • Senin, 12 Juni 2023 | 15:19 WIB
BERDARAH-DARAH: Para peserta dari warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan saat menggelar rradisi perang pandan atau mekare-mekare yang digelar pada Minggu, 11 Juni 2023.
BERDARAH-DARAH: Para peserta dari warga Desa Adat Tenganan Pegringsingan saat menggelar rradisi perang pandan atau mekare-mekare yang digelar pada Minggu, 11 Juni 2023.

AMLAPURA,radarbali.id - Warga desa adat Tenganan Pegringsingan kembali melaksanakan tradisi perang pandan atau mekare-kare yang digelar tiap tahunnya. Namun tahun ini, tradisi yang dilaksanakan tiap bulan kelima dalam penanggalan Tenganan Pegringsingan itu dikemas sedikit berbeda. Kali ini disinkronkan dengan festival dengan harapan bisa menarik lebih banyak kunjungan wisatawan. 

Tamping Takon Betenan atau Bendesa adat Tenganan Pegringsingan I Putu Suarjana mengatakan tradisi perang pandan sendiri dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra yang merupakan Dewa perang. “Kami di sini menganut Hindu sekta Dewa Indra,” ujarnya.

Dia menerangkan, dalam tradisi perang pandan tersebut bukan berarti perang melawan musuh tapi sebagai bentuk penghormatan yang dilakukan oleh para remaja putra yang ada di Tenganan Pegringsingan karena nantinya merekalah yang akan bertanggung jawab terhadap keluarga dan desa.

“Dilakukan tanpa dendam apapun. Ini dalam suka cita. Karena mereka yang nantinya bertaggungjawab terhadap kelangsungan desa Tenganan Pegringsingan,” kata Suarjana.

Sementara itu, salah seorang peserta I Kadek Sudarsana, 23, mengaku senang bisa terlibat dalam tradisi perang pandan ini. Ia ikut dalam perang pandan sudah beberapa kali setiap tahun digelar. Meski berdarah-darah, ia mengaku hal tersebut merupakan bentuk suka cita dan penghormatan kepada Dewa Indra.

“Tidak ada dendam. Luka-luka berdarah, sudah biasa. Senang bisa ikut tiap tahunnya,” akunya.

 Baca Juga: Pelaku Pelecehan Seksual Pada Mahasiswa Malah Polisikan Penyebar Rekaman CCTV, Gendo Bilang Begini

Tradisi perang pandan ini juga disinkronkan dengan sebuah festival yang bertajuk "Tenganan Pegringsingan Culture Festival 2023". Hal tersebut dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem sebagai upaya untuk meningkatkan kunjungan pariwisata.

“Karena ada tradisi besar jadi disinkronkan agar dampaknya lebih besar terhadap kunjungan pariwisata di Karangasem,” tuturnya.

Dalam Tenganan Pegringsingan festival itu, ada puluhan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) khas Karangasem yang ikut dipamerkan dan akan berlangsung selama tiga hari. ***

 

Editor : M.Ridwan
#Desa Adat Tenganan Pegringsingan #perang pandan #tradisi #mekare kare #berdarah #karangasem bali