Pengidap diabetes usia dini tak hanya marak di Klungkung. Kisah pilu dialami dua saudara kandung yakni Gede AS Sukmawan, 13, dan adiknya Kadek J, yang berusia 9 tahun. Dua anak laki-laki pasangan Ni Luh Sukani dan I Wayan Manis asal Karangasem ini mengidap penyakit diabetes di usianya yang masih teramat belia.
INI memang di luar dugaan. Keduanya didiagnois mengidap diabetes tipe 1 sejak dua tahun lalu. Kondisi ini memaksa keduanya bergantung pada suntikan insulin setiap harinya.
Ni Luh Sukani tak pernah menyangka, kedua anak laki-lakinya itu akan terkena diabetes di usianya yang masih sangat muda.
Padahal, dari riwayat keluarga dirinya maupun dari suaminya tidak ada yang mengidap diabetes. Sampai akhirnya, Kadek Junartawan yang kala itu masih duduk di bangku kelas 2 SD menunjukkan gejala berat badan menurun drastis bahkan sampai tak sadarkan diri.
”Saya periksakan ke rumah sakit. Sempat ada dugaan cacingan,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (14/6/2025).
Namun setelah menjalani pemeriksaan intensif, ternyata ada temuan kadar gula Kadek Junartawan menunjukkan angka di atas 1000 mg/dL.
”Dan ternyata sakit diabetes,” ungkapnya.
Cobaan tak berhenti di sana. Tak berselang lama setelah adiknya yang divonis diabetes, kakaknya Gede Agus Sukmawan yang saat itu duduk dibangku kelas 5 SD juga mengalami gejala yang hampir mirip. ”Pas di tes kadar gulanya juga mencapai 500 mg/dL,” tuturnya dengan penuh kesedihan.
Saat ini, akibat dari penyakit diabetes yang dialami, penglihatan Sukmawan juga terganggu dan dinyatakan mengarah kepenyakit glukoma yang mengharuskannya rutin kontrol ke RS Balimandara. ”Kurang jelas kalau melihat. Padahal sudah pakai kacamata. Ini membuat saya kurang jelas waktu membaca,” kata Sukmawan.
Keterbatasan ekonomi menambah beban keluarga kecil ini. Ayahnya I Wayan Manis hanya bekerja sebagai buruh harian. Manis dibantu sang istri membuat cetakan beton dengan penghasilan seadanya. ”Kalau untuk kontrol rutin, mengandalkan pinjaman kendaraan dari keluarga dan tetangga,” ucap Ni Luh Sukani.
Kini dua bersaudara yang sebelumnya cukup riang gembira bermain serta aktif latihan menari harus berhadapan dengan jarum suntik insulin setiap harinya. Tak hanya sekali atau dua kali, mereka harus disuntik insulin sebanyak lima kali dalam sehari.
Sukani mengakui bahwa anak-anak mereka memang cukup suka mengonsumsi jajanan sembarangan, seperti minuman kemasan yang manis, dan mie instan. Namun, siapa sangka kebiasaan tersebut justru berdampak serius terhadap kehidupan kedua putra mereka. [*]