AMLAPURA, RadarBali.id – Guyuran hujan deras yang mulai rutin menyelimuti wilayah Bali dalam beberapa pekan terakhir berdampak signifikan pada aktivitas wisata minat khusus.
Pendakian menuju puncak Gunung Agung, titik tertinggi di Pulau Dewata, dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga mencapai 70 persen dibandingkan saat musim kemarau atau cuaca cerah.
Kondisi ini dibenarkan oleh pemandu senior Gunung Agung dari Jalur Edelweis, Mangku Kayun. Menurutnya, penurunan jumlah pendaki mulai terasa sangat tajam sejak memasuki akhir pekan di bulan Februari ini.
"Biasanya kalau akhir pekan (weekend), pendaki yang naik bisa menembus 100 orang lebih. Namun sekarang, dalam kondisi hujan seperti ini, jumlahnya merosot jauh, hanya berkisar antara 15 sampai 30 orang saja," ungkap Mangku Kayun saat dikonfirmasi pada Sabtu (7/2/2026).
Antara Keamanan dan Kenyamanan
Faktor keamanan dan kenyamanan menjadi pertimbangan utama para pendaki untuk mengurungkan niat mereka. Medan Gunung Agung yang terjal menjadi lebih menantang dan licin saat diguyur hujan, yang menuntut fisik serta kewaspadaan ekstra.
Meski demikian, Mangku Kayun menjelaskan bahwa jalur pendakian sebenarnya masih tergolong aman selama pendaki mematuhi instruksi pemandu. "Sebenarnya walaupun hujan, kondisi masih relatif aman. Namun, jika cuaca benar-benar buruk atau ekstrem, kami pasti akan menginformasikan kepada pendaki untuk menunda keberangkatan," tambahnya.
Ancaman Hipotermia dan Persiapan Ekstra
Melakukan pendakian di musim hujan bukan tanpa risiko. Mangku Kayun memperingatkan bahwa ancaman kram otot dan hipotermia meningkat berkali-kali lipat akibat suhu udara yang rendah dan kondisi pakaian yang basah.
Oleh karena itu, bagi mereka yang tetap ingin mendaki, persiapan ekstra menjadi syarat mutlak.
- Perlengkapan: Membawa jas hujan berlapis (mantel berkualitas).
- Logistik: Menyiapkan pakaian ganti kering yang dibungkus plastik kedap air.
- Kesehatan: Membawa obat-obatan pribadi dan suplemen penghangat tubuh.
Ketegasan Aturan Skala dan Niskala
Sebagai salah satu jalur favorit, pengelola Jalur Edelweis tetap memberlakukan aturan yang sangat ketat. Tidak hanya soal teknis keselamatan (skala), tetapi juga penghormatan terhadap kesucian gunung (niskala).
"Kami sangat keras memberlakukan aturan. Ini demi keamanan bersama. Apalagi Gunung Agung adalah kawasan yang sangat disucikan, jadi etika dan aturan lokal wajib diikuti oleh setiap pendaki," tegas Mangku Kayun.
Fenomena sepinya pendaki ini ternyata tidak hanya terjadi di Jalur Edelweis, melainkan juga merata di jalur-jalur pendakian lain seperti via Pasar Agung maupun Besakih. Bagi para pelaku jasa pemandu, penurunan aktivitas ini dianggap sebagai siklus tahunan yang lumrah terjadi saat musim penghujan tiba.[*]
Editor : Hari Puspita