DENPASAR, radarbali.id - Nyamuk Wolbachia tengah jadi isu hangat di Bali. Penolakan terhadap penyebaran nyamuk Wolbachia di Bali mengundang pendapat dan analisa ahli dari Universitas Udayana.
Dosen Parasitologi dari Fakultas Kedokteran Unud, Dr. dr. I Made Sudarmaja, M.Kes mengatakan, memang benar ada penolakan dari beberapa orang terkait keberadaan bakteri Wolbachia yang sudah sosialisasi di Kota Denpasar dan Buleleng.
“Sebagai orang yang pernah belajar tentang nyamuk, kok saya merasa prihatin dengan adanya penolakan tersebut. Kita tahu Indonesia sudah mulai terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak tahun 1968. Dan setiap tahun cenderung meningkat, setiap tahun juga cenderung melua. Dulunya dari satu kota saja sekarang sudah hampir meluas ke seluruh Indonesia,” kata Dr Sudarmaja saat dihubungi, Rabu (13/12/2023).
Menurutnya, sejak ditemukan pertama kali sampai sekarang sudah berbagai usaha dilakukan dan sangat banyak biaya yang sudah dikeluarkan tapi angka kesakitan cenderung bertambah.
“Mereka yang meninggal karena DBD pun terus ada. Obat anti virus yang membunuh virusnya belum ada. Vaksin juga masih dalam taraf penelitian. Ketika ada satu teknologi yang aman bagi manusia dan lingkungan ditemukan dan dalam beberapa publikasi ternyata dampaknya bagus kenapa kita tolak dengan tanpa membaca artikel ilmiah dan tanpa alasan yang bisa diterima secara ilmiah,” sesalnya.
Menurutnya, Wolbachia adalah bakteri yang alami ada di serangga dan sudah ada sejak jaman dahulu. Dia obligat sebagai parasit yang artinya bakteri ini tidak bisa hidup bebas di alam.
“Aedes aegypti juga sudah ada sejak lama dan kita tidak bisa menghilangkannya dari muka bumi. Nyamuk aedes aegypti yang diinfeksi bakteri wolbachia itu tidak ada rekayasa genetika. Seperti manusia yang terinfeksi kuman baru apakah genetik nya berubah,” tandas Sudarmaja yang pernah melakukan penelitian “Fauna Nyamuk Aedes dan Kemungkinan Perannya dalam Penularan Demam Berdarah dengue di Banjar Graha Kerti dan Banjar Kerta Petasikan, Denpasar”
Hal senada disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unud, Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika. Ia mengatakan menyampaikan, penyakit DBD masih belum terkendali di Bali.
“Untuk itu, strategi pengendalian baru DBD perlu ditambah. Penemuan bakteri alam Wolbachia ini menjadi harapan baru bagi Bali. Tentu, sebelum pelepasan nyamuk ber-Wolbachia itu di Bali, diperlukan kajian risiko dan juga pemenuhan berbagai perizinan dan regulasi yang diperlukan,” kata Prof Mahardika.
Ahli Virologi dan Biologi Molekuler ini mengatakan agar tidak meresahkan masyarakat, informasi tentang teknologi Wolbachia harus dijelaskan dan masif disosialisasikan ke masyarakat.
“Wolbachia bakteri alami yang sudah ditemukan di Indonesia. Mungkin juga ada pada nyamuk di Bali. Bakteri ini hidup pada berbagai spesies nyamuk dan serangga yang bersifat obligate endosymbionts, hanya hidup dalam tubuh nyamuk, dan hanya bisa berpindah dari induk nyamuk ke keturunannya melalui telur,” katanya.
Lebih lanjut Prof. Mahardika mengatakan, metode Wolbachia yang sudah diuji coba di 14 negara, memang ada variasi keberhasilan dalam implementasinya.
Namun, dapat disimpulkan metode ini terbukti menurunkan kasus dengue secara signifikan di area atau lokasi penyebaran nyamuk ber-Wolbachia.
“Ada yang berhasil bagus, ada yang kurang berhasil, ini tergantung dari banyak faktor, ada kepadatan serangga, suhu, dan lingkungannya,” imbuhnya.
Merujuk pada kajian risiko sudah ada dokumen resmi yang dibuat oleh Kemendikbud dan Kemenkes RI yang melibat puluhan pakar, Prof. Mahardika berpendapat, metode atau inovasi ini telah terbukti murah dan efektif dalam menanggulangi DBD.
“Hasil kajian analisis risiko yang telah dilakukan di Indonesia menghasilkan estimasi bahwa untuk kurun waktu 30 tahun ke depan, peluang adanya bahaya yang meningkat akibat pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dapat diabaikan atau negligible risk,” tandasnya ***
Editor : M.Ridwan