SINGARAJA, radarbali.jawapos.com - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan sudah banyak membantu masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan kesehatan.
Menjadi peserta JKN adalah salah satu cara melindungi kesehatan, karena tidak ada satupun yang bisa memprediksi kapan sakit atau musibah yang akan menimpa datang. Demikian menurut Heni Sulistiana, 37, seorang peserta JKN yang berasal dari Pengastulan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng.
Ia membagikan pengalamannya saat anaknya, Ni Kadek Revhalda Friska Aryani Putri, 5, tiba tiba mengalami sesak dan harus menjalani rawat inap dengan bantuan tabung oksigen di Rumah Sakit Tangguwisia.
Untungnya Friska sejak lahir sudah terdaftar menjadi peserta JKN dalam tanggungan orang tuanya melalui tempat kerja ayahnya. Dengan demikian, biaya rawat inap di Rumah Sakit Tangguwisia ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan.
“Pada Senin yang lalu anak saya tiba-tiba menangis seperti kesulitan bernapas, akhirnya tanpa pikir panjang saya langsung membawa anak saya ke UGD di Rumah Sakit Tangguwisia, Dokter meminta anak saya harus dirawat inap dan juga membutuhkan bantuan tabung oksigen untuk bernapas,” ucap Heni.
Heni juga menjelaskan bahwa kondisi anaknya sudah mulai membaik, dan menunggu hasil pemeriksaan dari dokter apakah anaknya sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama anaknya dalam perawatan, pelayanan yang didapatkan sangat baik.
“Untungnya suami saya dapat tanggungan BPJS Kesehatan dari tempatnya bekerja, sehingga saya beserta anak-anak saya juga ikut ditanggung oleh perusahaan suami saya bekerja. Jadi saya tidak perlu bingung lagi untuk memanfaatkan kepesertaan JKN,” kata Heni.
Saat ditanya bagaimana prosedur yang dijalani di Rumah Sakit, Heni yang sudah menemani anaknya rawat inap selama 3 hari, tidak menemui kendala saat proses administrasi. Selama anaknya dirawat, Heni tidak merasakan adanya perbedaan pelayanan baik pasien JKN maupun pasien umum.
“Selama ini yang saya kira dari berita yang pernah saya lihat berobat ribet kalau pakai BPJS Kesehatan, ternyata saya yang merasakan sendiri langsung menggunakan BPJS Kesehatan tidak seribet yang dikatakan.
Mulai dari saya membawa Friska ke UGD saya kira harus mengurus administrasi dulu baru ditangani, ternyata anak saya langsung ditangani. Mengurus administrasi juga nggak seribet yang saya bayangkan. Cukup menggunakan KTP saja sudah bisa berobat,” ungkap Heni.
Menurut Heni terdaftar JKN di segmen apapun dan kelas berapapun tidak masalah, yang terpenting adalah ketika sakit sudah ada yang menjamin biaya pengobatan, jadi tidak perlu khawatir untuk biaya.
Biaya kesehatan semakin hari pasti akan semakin mahal, jika tanpa prinsip gotong-royong melalui Program JKN pasti pelayanan kesehatan belum tentu bisa diakses semua masyarakat.
“Program JKN ini luar biasa bermanfaat bagi masyarakat. Ketika yang sehat menolong yang sakit, semuanya akan bergotong royong membantu sesama lewat Program JKN. Mudah-mudahan program ini bisa terus dipertahankan oleh pemerintah kedepannya," kata Heni
Heni berharap agar Program JKN ini untuk terus berjalan, dan terus ditingkatkan agar kesehatan masyarakat Indonesia selalu terlindungi dan merasa aman karena biaya layanan kesehatan dijamin oleh program ini.
Di akhir pembicaraan Heni juga mengucapkan terima kasih Kepada BPJS Kesehatan karena sudah menghadirkan program yang sangat bermanfaat.
Editor : Rosihan Anwar