BANGLI, radarbali.jawapos.com - Narasi terkait remaja perempuan Bali di masa kehamilan diusung dalam sebuah pameran foto bertajuk Narasi Remaja dan Kehamilannya (NADI).
Pameran ini digelar di Aula Kantor Desa Songan A, pada Sabtu (2/8/2025). Sebagaimana tema yang diusung, pameran ini juga menyajikan visual wanita remaja Bali pada fase hamil.
Menariknya, pameran ini diinisiasi oleh I Gusti Agung Ayu Berlian Audya Parimayuna, seorang mahasiswi S3 Health Sciences, University of Canterbury, New Zealand. Dimana setiap foto yang dipamerkan merupakan hasil dari proses partisipatif, di mana para remaja terlibat secara aktif dalam mendokumentasikan pengalaman mereka melalui foto dan cerita pribadi.
Dengan kata lain, gambar-gambar yang ditampilkan merupakan hasil jepretan sendiri sendiri para peserta.
Setiap peserta juga menulis narasi yang merefleksikan perasaan, tantangan, harapan, dan kekuatan diri selama masa kehamilan.
Peserta merupakan remaja yang usianya di bawah 20 tahun, yang sedang hamil, dan berdomisili di Kabupaten Bangli.
I Gusti Agung Ayu Berlian Audya Parimayuna mengatakan, dirinya memilih Desa Songan, Kintamani, Kabupaten Bangli untuk wilayah penelitian, karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka fertilitas remaja usia 15 hingga19 tahun tertinggi di Provinsi Bali adalah Kabupaten Bangli, khususnya di Desa Songan.
”Tingginya angka ini mengindikasikan perlunya perhatian lebih terhadap pengalaman dan kebutuhan remaja hamil di Bangli, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun budaya,” kata wanita yang akrab disapa Berlian ini, Senin (4/8/2025).
Dia menjelaskan, pameran ini menampilkan beragam topik yang muncul dari pengalaman sehari-hari para remaja, mulai dari relasi dengan pasangan, keluarga hingga masyarakat.
Setiap karya mencerminkan kekuatan, kerentanan, dan ketulusan dalam menjalani masa kehamilan di usia muda.
Melalui foto dan narasi, para peserta mengajak pengunjung untuk memahami kenyataan yang sering tersembunyi di balik angka dan stigma.
Baca Juga: 38 Napi Bebas di HUT RI ke-80, Susrama Pembunuh Wartawan Radar Bali Tak Dapat Pengampunan
Kegiatan penelitian berlangsung selama beberapa bulan, diawali dengan tahap wawancara dan dilanjutkan dengan mengikuti photovoice atau foto berbicara yang dimulai dengan sesi pengambilan foto, diskusi kelompok, penulisan narasi foto hingga perencanaan pameran.
“Dengan metode ini, para partisipan yaitu remaja di masa kehamilannya, diberi ruang untuk mengekspresikan pengalaman mereka melalui foto dan narasi, yang dapat membuka pemahaman baru bagi tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas mengenai realitas yang mereka hadapi,” ujarnya.
Menurutnya, dalam menjalankan penelitian hingga menggelar pameran ini, semua proses dilakukan dengan pendekatan terhadap konteks sosial dan budaya lokal Bali.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Kintamani V, Ns.I Wayan Terus, S.Kep, yang hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan Bangli, dr. I Nyoman Arsana, M.Kes yang berhalangan hadir, menjelaskan mengenai “4 Terlalu” dalam sebuah kehamilan yang berisiko tinggi.
Keempat hal itu yang pertama, hamil terlalu muda, usia calon ibu di bawah 20 tahun. Kedua, hamil terlalu tua, usia calon ibu di atas 35 tahun. Ketiga, hamil terlalu sering, dan dan yang keempat hamil terlalu berdekatan jaraknya.
Dia menganjurkan agar keempat hal tersebut sebaiknya dihindari, untuk mencegah dampak buruk yang kemudian hari bisa terjadi, seperti gangguan kesehatan reproduksi, dan masalah stunting bagi buah hati.
“Program Keluarga Berencana itu baik, hendaknya masyarakat terutama para perempuan menerapkan slogan “berencana itu keren”, perencanaan yang matang, termasuk rencana menikah, berumah tangga, dan mengatur kehamilan,” ungkap I Wayan Terus.
Baca Juga: RERAINAN & ALA AYUNING DEWASA, SELASA (5/8/2025)
Pameran “NADI” tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga bentuk advokasi dan berfungsi sebagai penghubung antara pengalaman personal remaja dan isu-isu yang lebih luas, seperti akses terhadap layanan kesehatan, dukungan sosial, serta hak atas informasi yang setara.
”Dalam hal kebijakan, kami dari Dinas Kesehatan, menerapkan program khusus guna mengantisipasi kehamilan remaja perempuan di bawah usia 20 tahun, yaitu dengan menggalakkan Posyandu Remaja, dalam hal ini mengedukasi tentang kesehatan reproduksi remaja. Kami juga sudah menerapkan program Calon Pengantin atau “Catin” yaitu pengecekan kondisi fisik, kesehatan, dan mental calon pengantin, apakah mereka sudah benar-benar siap untuk menikah," sambungnya.
Kegiatan pameran itu sendiri dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Bangli yang diwakili oleh Kepala Puskesmas Kintamani V, juga dihadiri Kepala Desa Songan A, Kepala Desa Songan B yang diwakili oleh Sekretaris Desa Songan B, Koordinator Kesehatan Ibu dan Anak dan Bidan di Puskesmas Kintamani V.
Selain itu, ada pula organisasi KISARA “Kita Sayang Remaja” yang dijalankan, (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) PKBI Bali, mahasiswa/i dari Universitas Udayana yang sedang menjalankan KKN di Desa Songan.***
Editor : M.Ridwan