JEMBRANA, RadarBali.id - Peningkatan kesadaran pengobatan di kalangan Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Jembrana, Bali, berhasil menekan angka kematian akibat penyakit mematikan ini.
Data Komunitas Jalak Bali dan Dinas Kesehatan Jembrana menunjukkan tren positif di mana angka kematian akibat HIV/AIDS, terutama di usia muda, mengalami penurunan signifikan.
Menurut Koordinator Komunitas Jalak Bali, I Made Suarnayasa, kesadaran ODHA untuk menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV) semakin tinggi. Hal ini berbeda jauh dengan kondisi beberapa tahun lalu, di mana banyak ODHA yang menolak tes bahkan setelah didiagnosis.
"Dulu, sudah masuk stadium AIDS saja masih sulit diajak tes. Sekarang, berkat kemudahan informasi, orang yang berisiko sudah semakin sadar untuk langsung tes saat merasa ada gejala," jelas I Made Suarnayasa.
Akses Layanan Mudah, Kematian Menurun
Kemudahan akses layanan kesehatan menjadi salah satu faktor utama peningkatan kesadaran ini. Setiap Puskesmas di Jembrana kini menyediakan fasilitas tes dan obat ARV secara gratis, sehingga ODHA dapat segera mendapatkan penanganan.
"Angka kematian menurun bukan karena sembuh, tapi karena pengobatan yang efektif menekan perkembangan virus. Kualitas hidup ODHA semakin baik, sehingga risiko fatal bisa ditekan," imbuhnya.
Data Komunitas Jalak Bali mencatat, dari Januari hingga Agustus 2025, hanya ada 3 kasus kematian akibat HIV/AIDS, semuanya dari kasus baru yang terlambat ditangani. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama beberapa tahun sebelumnya yang bisa mencapai 10 kasus kematian.
Peringatan: Infeksi di Usia Muda Meningkat
Di balik tren positif penurunan angka kematian, ada fenomena yang cukup mengkhawatirkan. I Made Suarnayasa mengungkapkan, orang yang terinfeksi HIV justru semakin muda dan produktif.
"Dari 45 orang yang kami dampingi tahun ini, usia rata-ratanya di bawah 30 tahun," ungkapnya.
Fenomena ini, menurutnya, dipengaruhi oleh gaya hidup tidak sehat, terutama perilaku berganti-ganti pasangan seksual, yang menjadi faktor dominan penularan di Jembrana, bukan penggunaan narkotika jarum suntik.
Upaya Pencegahan dan Pengobatan Digenjot
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jembrana, I Gede Ambara Putra, membenarkan data tersebut. Ia menyebut, ada 48 kasus baru HIV/AIDS dalam setahun terakhir, menambah total kasus kumulatif yang tercatat di Jembrana menjadi 632 orang.
"Saat ini, 529 ODHA atau sekitar 84 persen dari total kasus yang masih hidup, sudah mendapatkan pengobatan," terangnya.
Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus berupaya menekan kasus HIV/AIDS melalui berbagai program, seperti sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada pelajar dan kelompok berisiko, skrining HIV pada ibu hamil, serta mendekatkan akses layanan tes.
Di Jembrana sendiri, kini terdapat 15 layanan tes, termasuk 10 puskesmas, 4 rumah sakit, dan 1 klinik. "Dengan pendekatan layanan tes ini, deteksi dan pengobatan bisa lebih cepat dilakukan," tutupnya.[*]
Editor : Hari Puspita