RadarBali.id – Para dokter spesialis anak di Indonesia kembali menegaskan bahaya serius dari paparan senyawa Bisfenol A (BPA), terutama bagi kelompok usia rentan, yakni bayi, balita, dan janin.
BPA, yang umum ditemukan dalam berbagai kemasan plastik, berpotensi memicu serangkaian gangguan kesehatan jangka panjang, mulai dari masalah hormonal, perkembangan otak, hingga risiko penyakit kronis.
Dokter mengimbau para orang tua untuk lebih cermat dan waspada dalam memilih produk harian anak, khususnya yang berkaitan dengan makanan dan minuman, sebagai upaya perlindungan maksimal pada masa 1.000 hari pertama kehidupan yang sangat krusial.
BPA: 'Pengganggu' Endokrin yang Mengintai Tumbuh Kembang Anak
BPA merupakan bahan kimia industri yang digunakan untuk mengeraskan plastik polikarbonat (biasanya ditandai dengan kode daur ulang nomor 7) dan melapisi bagian dalam kaleng makanan atau minuman.
Dokter anak menyebut BPA sebagai endocrine disruptor atau pengganggu hormon karena sifatnya yang dapat meniru hormon estrogen dalam tubuh manusia.
Anak-anak, khususnya balita, dinilai lebih rentan terhadap efek BPA. Hal ini disebabkan sistem metabolisme mereka belum sepenuhnya berkembang untuk memproses dan mengeluarkan bahan kimia tersebut dari tubuh. Paparan yang terakumulasi dalam jangka panjang inilah yang dapat memicu serangkaian masalah kesehatan serius.
Dampak Fatal Paparan BPA pada Anak
Berdasarkan studi dan peringatan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta pakar kesehatan, dampak buruk paparan BPA pada balita meliputi:
- Gangguan Hormonal dan Reproduksi: BPA dapat mengganggu keseimbangan hormon, memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan normal, serta berpotensi merusak organ reproduksi di masa depan.
- Gangguan Perkembangan Otak dan Perilaku: Paparan BPA dikaitkan dengan masalah perkembangan sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan gangguan perilaku seperti hiperaktif, kecemasan, depresi, dan gangguan kognitif (kurangnya perhatian).
- Masalah Kesehatan Jangka Panjang: Paparan kronis BPA dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung di masa anak-anak dan remaja karena mengganggu regulasi hormon dan proses metabolisme lemak.
- Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh: Balita yang terpapar BPA cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi dan alergi akibat BPA yang memicu peradangan dan mengganggu fungsi sistem imun.
Sumber Utama Paparan BPA yang Sering Diabaikan
Dokter mengingatkan, meskipun pemerintah telah mengatur agar botol susu dan alat makan bayi wajib bebas BPA, sumber paparan lain sering kali tidak disadari oleh orang tua. Sumber-sumber tersebut meliputi:
- Air Minum Kemasan Galon Polikarbonat: Air minum yang dikonsumsi setiap saat menjadikan galon air minum dalam kemasan (AMDK) dari plastik polikarbonat berpotensi melepaskan BPA, terutama jika galon sudah lama, kusam, atau terkena suhu tinggi.
- Wadah Makanan dan Minuman Plastik: Kotak makan, piring, gelas, dan botol minum plastik yang tidak berlabel "BPA Free" atau memiliki kode daur ulang nomor 3 atau 7.
- Mainan Plastik: Balita memiliki kecenderungan menggigit mainan, yang dapat memicu pelepasan BPA.
- Makanan Kaleng: Lapisan resin epoksi di bagian dalam sebagian besar makanan dan minuman kaleng juga mengandung BPA.
Langkah Praktis Pencegahan untuk Orang Tua
Para dokter menekankan bahwa melindungi anak dari BPA harus menjadi prioritas utama. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua:
- Pilih Produk Berlabel Bebas BPA: Selalu utamakan membeli botol susu, botol minum, dan wadah makanan dengan label "BPA Free" atau "Bebas BPA".
- Gunakan Alternatif Kemasan Aman: Sebisa mungkin, gunakan wadah yang terbuat dari kaca (glass) atau baja tahan karat (stainless steel) untuk makanan dan minuman anak, karena kedua bahan ini tidak melarutkan zat kimia ke dalam isi.
- Hindari Panas: Jangan pernah memanaskan makanan atau minuman menggunakan wadah plastik polikarbonat, baik di microwave maupun menuangkan air panas langsung. Panas akan mempercepat migrasi BPA ke makanan atau minuman.
- Waspada Galon Air Minum: Pilih air minum dalam kemasan yang menggunakan jenis plastik yang secara alamiah bebas BPA, seperti PET (Polyethylene Terephthalate), dan hindari menggunakan galon yang sudah retak, tergores, atau berusia tua.
- Batasi Makanan Kaleng: Kurangi konsumsi makanan dan minuman yang dikemas dalam kaleng. Pilih makanan yang dimasak dari bahan segar atau kemasan dalam toples kaca.
Kewaspadaan dan kecermatan orang tua dalam memilih produk harian adalah kunci untuk menjamin tumbuh kembang balita yang sehat dan optimal, bebas dari risiko gangguan kesehatan jangka panjang akibat paparan bahan kimia berbahaya.[*]
Editor : Hari Puspita