Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Zat Besi dan Perkembangan Otak Anak: Kenapa Ini Penting?

Rosihan Anwar • Sabtu, 3 Januari 2026 | 09:26 WIB

 

Photo
Photo

Oleh: dr. Salwa

ANAK lahir untuk belajar, dan mereka berkembang dan belajar sangat cepat di awal tahun kehidupannya.

Milestones perkembangan otak pada anak terjadi pada usia 0-5 tahun dan Zat besi berperan sangat penting pada banyak proses perkembangan saraf.

Zat besi sangat penting untuk berbagai proses sel dalam perkembangan otak khususnya dalam hal memori dan belajar.

Selain itu, Zat besi juga penting untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan pada anak.

Sehingga kesehatan fisik dan nutrisi sangat penting di 5 tahun pertama kehidupan. Kekurangan zat besi bisa mengganggu proses ini sehingga kemampuan berpikir dan belajar anak bisa ikut terpengaruh.

Semua anak berisiko kekurangan zat besi, terutama bayi, balita, dan anak sekolah. Kelompok ini membutuhkan zat besi lebih banyak karena otak dan tubuhnya tumbuh dengan cepat.

Selain itu, Ibu hamil juga penting karena cadangan zat besi ibu menentukan kebutuhan bayi sejak dalam kandungan.

Penelitian menunjukkan bahwa kekurangan zat besi tidak hanya membuat anak lemas, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa anak yang kekurangan zat besi sejak bayi dapat mengalami gangguan perhatian dan kemampuan verbal dimasa remaja.

Periode paling penting adalah sejak ibu hamil hingga anak berusia 2 tahun dan ini disebut periode emas karena otak tumbuh sangat cepat dan sangat sensitif terhadap kekurangan nutrisi termasuk zat besi.

Kekurangan zat besi saat ini dapat berdampak jangka panjang pada kemampuan berpikir dan belajar anak.

Masalah kekurangan zat besi ini umumnya terjadi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama di daerah dengan akses makanan bergizi terbatas.

Sehingga, anak-anak yang pola makannya kurang seimbang lebih rentan mengalami defisiensi zat besi.

Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak, orang tua bisa memastikan asupan makanannya mengandung zat besi, seperti daging merah, ayam, ikan, hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta makanan yang diperkaya zat besi.

Tambahan vitamin C dalam makanan juga membantu tubuh menyerap zat besi lebih baik (misalnya konsumsi jeruk bersamaan dengan dengan daging merah).

Selain itu, IDAI merekomendasikan untuk memberikan suplementasi zat besi dengan prioritas usia 0-5 tahun terutama usia 0-2 tahun.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa suplementasi zat besi secara signifikan dapat meningkatkan fungsi kognitif seperti memori, perhatian, dan kecerdasan pada anak sekolah.

Oleh karena itu, sangat penting dalam memastikan anak mendapatkan asupan zat besi yang cukup sejak dini, baik melalui pola makan bergizi seimbang maupun suplementasi sesuai anjuran.

Dengan memperhatikan kebutuhan zat besi sejak awal kehidupan, kita turut berkontribusi dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar