Oleh dr. Ni Made Puspa Dewi Astawa, Sp.OT
PERMASALAHAN kesehatan pada remaja tidak selalu tampak secara kasat mata. Di balik aktivitas belajar yang padat dan dinamika pergaulan yang semakin kompleks, remaja usia sekolah menengah pertama menyimpan berbagai risiko kesehatan, baik fisik maupun mental.
Salah satu kondisi yang kerap luput dari perhatian adalah scoliosis. Scoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang banyak muncul pada saat remaja memasuki usia pertumbuhan cepat.
Di sisi lain, maraknya penggunaan media sosial dikalangan remaja juga membawa tantangan baru. Akhir-akhir marak terdengar perilaku bullying/ perundungan baik berupa fisik maupun psikis.
Bahkan tindakan perundungan juga dapat dilakukan pada orang yang tidak dikenal melalui interaksi di media sosial (cyberbullying).
Kondisi tersebut mendorong Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa penyuluhan skoliosis dan edukasi anti-bullying pada anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMPN 9 Denpasar.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Desember 2025 ini menyasar 20 siswa anggota PMR yang selama ini aktif dalam kegiatan kesehatan dan pertolongan pertama di sekolah.
Skoliosis, Ancaman Diam-Diam pada Usia Remaja
Skoliosis merupakan kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung secara abnormal dan sering kali berkembang tanpa disadari. Pada usia 12–16 tahun, remaja mengalami fase growth spurt, yaitu pertumbuhan tubuh yang berlangsung cepat.
Pada fase ini, kelainan struktur tulang belakang yang sebelumnya ringan dapat menjadi lebih jelas dan berisiko berkembang menjadi lebih berat apabila tidak dikenali sejak dini.
Di lingkungan sekolah, siswa menghabiskan waktu hingga enam sampai tujuh jam per hari dalam posisi duduk.
Kebiasaan duduk dengan postur yang kurang baik, penggunaan tas sekolah yang berat, serta kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk kondisi tulang belakang.
Sayangnya, pengetahuan siswa mengenai skoliosis dan pentingnya menjaga postur tubuh masih terbatas.
Melalui kegiatan PKM ini, anggota PMR diberikan pemahaman dasar mengenai skoliosis, faktor risiko, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.
Tidak hanya bersifat teoritis, peserta juga dilatih melakukan skrining skoliosis sederhana, seperti pengamatan simetri bahu dan pinggang serta uji membungkuk Adams.
Skrining ini diharapkan dapat membantu deteksi dini sehingga siswa dengan kecurigaan skoliosis dapat segera dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Media Sosial dan Tantangan Bullying di Kalangan Siswa
Selain masalah kesehatan fisik, remaja juga dihadapkan pada tantangan kesehatan mental dan sosial. Penggunaan media sosial yang semakin masif di kalangan pelajar membawa dampak positif sekaligus negatif.
Tanpa pemahaman yang cukup, media sosial dapat menjadi sarana munculnya perilaku bullying, baik secara langsung maupun melalui dunia maya.
Dalam kegiatan ini, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai penggunaan media sosial yang bijak dan bertanggung jawab.
Materi anti-bullying disampaikan untuk meningkatkan empati siswa serta menumbuhkan keberanian untuk mencegah dan melaporkan tindakan perundungan.
Anggota PMR didorong untuk berperan sebagai agen perubahan yang mampu mengampanyekan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghargai.
PMR sebagai Kader Kesehatan Sekolah
Pemilihan anggota PMR sebagai mitra kegiatan dinilai tepat karena mereka memiliki peran strategis di lingkungan sekolah.
Sebagai kader kesehatan sebaya, PMR tidak hanya menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dengan siswa lain.
Hal ini membuat pesan kesehatan lebih mudah diterima dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas.
Melalui pendekatan promotif dan preventif, sekolah diharapkan menjadi ruang yang tidak hanya mendukung prestasi akademik, tetapi juga kesehatan fisik dan mental peserta didik.
Menuju Program Berkelanjutan
Keberhasilan kegiatan ini membuka peluang untuk pengembangan program serupa secara berkelanjutan.
Ke depan, kegiatan pelatihan lanjutan seperti penanganan cedera ringan atau kegawatdaruratan di sekolah direncanakan untuk semakin memperkuat kapasitas anggota PMR.
Dengan melibatkan remaja secara aktif, upaya pencegahan skoliosis dan bullying dapat dilakukan lebih dini dan berkelanjutan.
Melalui edukasi yang tepat dan partisipasi aktif siswa, diharapkan sekolah dapat menjadi lingkungan yang sehat, aman, dan ramah bagi tumbuh kembang generasi muda.
PMR SMPN 9 Denpasar pun diharapkan terus menjadi garda depan dalam membangun budaya sekolah yang peduli terhadap kesehatan fisik dan mental.
Editor : Rosihan Anwar