Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Heboh Virus LSD, Dewan asal Jembrana Harap Durasi Lockdown Lalu Lintas Hewan di Jembrana Dievaluasi

Tim Redaksi • Senin, 19 Januari 2026 | 21:07 WIB
Ilustrasi info grafis virus Lumpy Skin Disease (LSD)
Ilustrasi info grafis virus Lumpy Skin Disease (LSD)

DENPASARradarbali.jawapos.com – Langkah cepat pemerintah mencegah penularan Lumpy Skin Disease (LSD) pada hewan ternak mendapat dukungan DPRD Bali. Anggota Komisi II DPRD Bali, Gede Ghumi Asvatham, menilai kebijakan pembatasan lalu lintas hewan (lockdown) sudah tepat setelah adanya temuan 28 ekor sapi dan kerbau positif LSD di Kabupaten Jembrana.

Untuk memutus rantai penularan agar tidak meluas ke kabupaten lain, pemerintah menetapkan lockdown khusus di Jembrana selama enam bulan. Namun, Ghumi berharap durasi tersebut dapat dievaluasi.

“Peternak sangat kooperatif dan sejauh ini belum ada keluhan. Mungkin tidak harus sampai enam bulan, bisa lebih cepat,” ujar putra sulung mantan Bupati Jembrana I Nengah Tamba itu, kemarin (19/1/2026).

 Baca Juga: Suntikan Modal BPD Bali, Dewan Minta Transparan, Raup Deviden Rp 75 Miliar Per Tahun, Fraksi Gerindra dan PSI Soroti Kinerja Internal

Politikus asal Jembrana tersebut mengajak seluruh pihak fokus menuntaskan penanganan LSD di Bumi Makepung. Pengiriman hewan ternak ke luar daerah baru dapat dilakukan setelah wilayah tersebut benar-benar dinyatakan bebas virus.

“Pemerintah harus memberikan solusi terbaik. Setelah aman, barulah pengiriman sapi dibuka kembali,” ujarnya usai Rapat Paripurna DPRD Bali.

Politisi Demokrat ini mengakui,  wabah LSD dipastikan berdampak pada sektor peternakan di Jembrana. Meski demikian, peternak memilih mengikuti kebijakan pemerintah demi mencegah penyebaran ke daerah lain di Bali.

“Kami harapkan cukup di Jembrana saja, tidak menyebar ke wilayah lain,” katanya.

Terkait kerugian peternak, Ghumi mengaku belum melakukan penghitungan secara menyeluruh. Ia berharap adanya kolaborasi pemerintah dan peternak untuk pemulihan pascawabah.

“Setelah LSD selesai, ikuti aturan pemerintah. Kita pastikan tuntas, lalu aktivitas peternakan kembali normal,” jelasnya.

 Baca Juga: Arema Kehilangan Luiz Gustavo, Datangkan Gustavo Franca dari Persija

Ghumi juga memastikan stok daging sapi di pasaran masih aman. Hingga kini belum ada keluhan masyarakat terkait kelangkaan, meski  akan menghadapi hari raya besar yang biasanya ada lonjakan permintaan daging sapi.

“Belum ada dampak signifikan. Harga masih stabil. Mudah-mudahan setelah ini benar-benar selesai dan tidak ada ternak yang terjangkit lagi,” ujarnya.

Seperti diketahui, penyebaran LSD diduga dipicu masuknya ternak ilegal dari luar Bali. Demi memutus rantai penularan, Pemprov Bali memberlakukan lockdown khusus di Jembrana sejak Kamis (15/1). Selama enam bulan, seluruh lalu lintas hewan dari dan menuju Jembrana dihentikan.

“Surat instruksi sudah turun. Jembrana kita lockdown agar tidak ada lalu lintas ternak. Rencananya enam bulan sampai tuntas,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali Wayan Sunada beberapa hari lalu.***

Editor : M.Ridwan
#penyakit menular #LSD #lumpy skin desease