Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Energi Feminine dan Energi Maskulin: Keseimbangan Dalam Diri

Rosihan Anwar • Minggu, 26 April 2026 | 16:50 WIB
Santy Sastra.
Santy Sastra.

 

Oleh: Santy Sastra

(Mindset Motivator & Hypnoterapist)

SETIAP manusia memiliki dua energi dasar dalam dirinya: energi feminine dan energi maskulin. Keduanya bukan soal gender, tapi tentang sifat dan cara kita menjalani hidup.

Energi maskulin identik dengan aksi, logika, struktur, dan fokus pada tujuan. Ini energi yang mendorong kita untuk bergerak maju, membuat keputusan, dan melindungi. Saat deadline menumpuk, energi inilah yang aktif.

Sebaliknya, energi feminine lebih mengalir, intuitif, menerima, dan penuh empati. Ini energi yang mengajak kita berhenti sejenak, merasakan, merawat, dan menciptakan hubungan.

Saat kita mendengarkan teman curhat, energi inilah yang bekerja. 

Masalah muncul ketika salah satu energi terlalu dominan. Terlalu banyak energi maskulin membuat kita kaku, mudah stres, dan sulit istirahat. Hidup terasa seperti lomba yang tak pernah usai.

Sementara terlalu banyak energi feminine tanpa arah bisa membuat kita pasif, sulit mengambil keputusan, dan mudah terbawa perasaan. Ide banyak, tapi tidak ada yang dieksekusi.

Kuncinya adalah keseimbangan. Laki-laki butuh energi feminine untuk lebih peka dan kreatif. Perempuan butuh energi maskulin untuk lebih tegas dan berani ambil langkah.

Cara melatih energi maskulin cukup sederhana. Buat target harian, disiplin olahraga, belajar bilang “tidak”, dan fokus selesaikan satu hal sampai tuntas.

Untuk mengaktifkan energi feminine, coba lebih sering menulis jurnal, meditasi, menari, berkebun, atau sekadar menikmati seni. Biarkan diri merasakan tanpa harus langsung menilai.

Di tempat kerja, tim yang sehat punya campuran keduanya. Energi maskulin untuk strategi dan eksekusi, energi feminine untuk kolaborasi dan inovasi.

Dalam hubungan, pasangan yang saling mengisi akan lebih harmonis. Kadang satu pihak memimpin, kadang pihak lain mengayomi. Tidak ada yang selalu dominan.

Tubuh juga memberi sinyal. Kalau sering tegang, insomnia, dan marah, mungkin energi maskulin berlebihan. Kalau mudah cemas, overthinking, dan sulit fokus, energi feminine perlu diarahkan.

Latihan pernapasan 5 menit sehari bisa membantu. Tarik napas untuk menenangkan energi maskulin, hembuskan untuk melepas kontrol dan masuk ke energi feminine.

Budaya kita sering salah kaprah. Laki-laki dilarang lembut, perempuan dianggap lemah kalau tidak galak. Padahal, kekuatan sejati lahir dari keseimbangan keduanya.

Mulailah kenali pola diri sendiri. Kapan Anda terlalu memaksa? Kapan Anda terlalu mengalah? Dari situ, Anda tahu energi mana yang perlu dikuatkan.

Karena hidup yang utuh bukan soal memilih salah satu. Tapi tentang menari di antara keduanya: tegas tapi lembut, terarah tapi mengalir. (ss/han)

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#santy sastra hypnoterapi #santy sastra #Power of mind santy sastra #santy sastra public speaking