Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
PERNAH merasa kepala seperti radio yang nggak bisa dimatikan? Itulah over thinking - kebiasaan berpikir berlebihan. Kita memutar ulang kejadian kemarin, menebak masa depan, atau cemas pada hal kecil.
Wajar, semua orang mengalaminya. Tapi kalau terus-menerus, pikiran yang terlalu rajin ini justru bikin lelah sendiri.
Di usia matang kita punya banyak pengalaman. Itu modal bijaksana. Sayangnya, pertimbangan sering berubah jadi kekhawatiran berulang.
Energi habis untuk berpikir, bukan bertindak. Padahal waktu dan tenaga kita lebih berharga untuk hal nyata: ngobrol, jalan sore, atau bercanda dengan cucu.
Dampaknya nyata. Pertama, tidur terganggu. Otak terus bekerja sehingga susah rileks. Bangun pagi badan pegal, mood mudah drop.
Kedua, kesehatan menurun. Stres berlebih bisa picu sakit kepala, darah tinggi, sampai maag kambuh.
Ketiga, hubungan renggang. Kita jadi sensitif, gampang salah paham, atau memilih diam karena takut salah ucap.
Keempat, keputusan tertunda. Terlalu banyak “bagaimana kalau” membuat langkah terhenti. Peluang lewat begitu saja. Kelima, bahagia berkurang.
Fokus hanya ke yang belum terjadi atau yang sudah lewat. Kita lupa menikmati teh hangat sore ini atau sapaan tetangga di depan rumah.
Kabar baiknya, over thinking bisa dilatih. Tulis semua isi kepala di kertas. Lalu tanya jujur: “Ini bisa aku kontrol sekarang?”
Kalau jawabannya tidak, lepaskan. Kalau bisa, buat 1 langkah kecil hari ini. Cukup satu. Tidak perlu langsung sempurna.
Kesimpulannya ada lima. Satu, over thinking manusiawi tapi jangan dikuasai. Dua, dampaknya terasa di tidur, badan, hubungan, keputusan, dan rasa bahagia.
Tiga, kuncinya bukan berhenti berpikir, tapi memilih apa yang layak dipikirkan. Empat, fokus pada hal yang bisa dikontrol hari ini.
Lima, usia ini waktunya menikmati hidup, bukan mengkhawatirkan semua hal.
Mulai sekarang beri jeda untuk pikiran. Tarik napas dalam, minum air putih, lalu alihkan ke kegiatan ringan: menyiram tanaman, jalan kaki 10 menit, atau baca 1 halaman buku. Pikiran tenang, hati ikut tenang. Hidup jadi lebih ringan dijalani. (ss/han)
Editor : Rosihan Anwar