RS Mata Bali Mandara Perkuat Keterlibatan Puskesmas melalui Inovasi ISEE

Rosihan Anwar • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 19:58 WIB
Rumah Sakit Mata Bali Mandara terus berkomitmen menghadirkan inovasi pelayanan kesehatan mata.
Rumah Sakit Mata Bali Mandara terus berkomitmen menghadirkan inovasi pelayanan kesehatan mata.

 

DENPASAR, radarbali.jawapos.com - Pemerintah Provinsi Bali merupakan salah satu pemerintah daerah yang memperoleh predikat Sangat Inovatif dalam penilaian Indeks Inovasi Daerah.

Capaian tersebut tidak terlepas dari komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mendorong setiap perangkat daerah untuk menciptakan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebagai salah satu perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali, Rumah Sakit Mata Bali Mandara terus berkomitmen menghadirkan inovasi pelayanan kesehatan mata.

Pada tahun 2026, Rumah Sakit Mata Bali Mandara mengusulkan tiga inovasi, yaitu SINDIKAT, MATAHATI, dan ISEE.

Ketiga inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat upaya penurunan angka kebutaan melalui Program Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan atau PGPK dengan pendekatan pelayanan kesehatan mata berbasis komunitas.

Gangguan penglihatan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berdampak luas terhadap kualitas hidup, produktivitas, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Secara global, katarak, glaukoma, dan retinopati diabetik masih menjadi penyebab utama kebutaan.

Kebutaan tidak hanya mengurangi kemampuan seseorang untuk bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat menimbulkan beban psikologis serta meningkatkan ketergantungan terhadap keluarga dan lingkungan sosial.

Indonesia, termasuk Provinsi Bali, menghadapi tantangan serius dalam penanggulangan gangguan penglihatan.

Data epidemiologi menunjukkan prevalensi kebutaan di Indonesia berada pada kisaran 0,9 persen dan termasuk tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Di Bali, prevalensi kebutaan pernah mencapai 1 persen dengan penyebab yang didominasi oleh katarak senilis.

Sejak tahun 2008, Rumah Sakit Mata Bali Mandara ditetapkan sebagai pusat rujukan kesehatan mata tingkat provinsi.

Rumah sakit ini mengemban tanggung jawab strategis dalam pelaksanaan Program PGPK melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Salah satu upaya unggulan yang telah dilaksanakan adalah pelayanan Mobile Eye Clinic, yaitu layanan operasi katarak bergerak yang memungkinkan masyarakat, termasuk masyarakat di daerah dengan keterbatasan akses, memperoleh pelayanan kesehatan mata.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Bali serta berkontribusi terhadap penurunan prevalensi kebutaan di Bali dari 1 persen berdasarkan Riskesdas 2007 menjadi 0,3 persen berdasarkan Riskesdas 2013.

Tantangan Pelaksanaan Program PGPK

Dalam pelaksanaannya, Program PGPK masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya dalam pelaporan dan pemantauan pasien setelah menjalani operasi katarak.

Sebelumnya, pelaporan hasil pemeriksaan pascaoperasi masih banyak dilakukan secara manual.

Data pemeriksaan pasien dicatat pada kertas atau berkas sederhana, kemudian disampaikan oleh puskesmas kepada Rumah Sakit Mata Bali Mandara melalui mekanisme konvensional.

Kondisi tersebut menyebabkan proses pengumpulan, verifikasi, dan evaluasi data membutuhkan waktu lebih lama.

Pelaporan manual juga menyulitkan evaluasi hasil operasi melalui indikator Cataract Surgical Outcome, yang antara lain mencakup komplikasi selama operasi serta hasil pemeriksaan tajam penglihatan pasien setelah operasi.

Padahal, pemantauan hasil operasi sangat penting untuk memastikan pasien mendapatkan tindak lanjut yang cepat dan tepat apabila ditemukan gangguan atau komplikasi.

Selain itu, peningkatan kompetensi petugas puskesmas juga menjadi perhatian. Pelatihan khusus bagi petugas puskesmas terkait pelaksanaan Program PGPK terakhir dilaksanakan pada tahun 2014.

Perbedaan pengalaman dan pemahaman petugas berpotensi memengaruhi konsistensi serta validitas hasil pemeriksaan.

Tantangan lainnya adalah belum terintegrasinya sistem komunikasi antara Rumah Sakit Mata Bali Mandara dan puskesmas.

Hal ini dapat menghambat pemantauan pasien secara berkesinambungan, mulai dari tahap skrining, rujukan, pelayanan operasi, pemeriksaan pascaoperasi, hingga rehabilitasi.

Kondisi tersebut melahirkan kebutuhan akan sebuah sistem digital yang mampu mengintegrasikan data, pelaporan, dan komunikasi antara Rumah Sakit Mata Bali Mandara dengan puskesmas.

Sistem tersebut harus mampu menyediakan pelaporan secara cepat, memfasilitasi pemantauan hasil operasi, mendukung tindak lanjut pasien, serta menghasilkan data yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Dari kebutuhan inilah lahir inovasi ISEE atau Integrated System for Eye Engagement.

Memperkuat Keterlibatan Puskesmas

ISEE merupakan strategi Rumah Sakit Mata Bali Mandara untuk meningkatkan keterlibatan puskesmas dalam Program Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan.

Inovasi ini dikembangkan untuk memperkuat integrasi pelayanan, mempermudah pemantauan pasien setelah operasi, dan mendukung evaluasi Program PGPK secara berkesinambungan.

Melalui aplikasi ISEE, Rumah Sakit Mata Bali Mandara dapat memperoleh data hasil pemeriksaan pasien yang telah menjalani operasi katarak melalui Mobile Eye Clinic secara lebih cepat dan valid.

Petugas puskesmas dapat memasukkan hasil pemeriksaan pasien langsung ke dalam sistem sehingga data tidak lagi bergantung pada pencatatan dan pengiriman laporan secara manual.

ISEE juga dilengkapi dengan fitur edukasi berupa video tutorial pemeriksaan pasien. Fitur tersebut membantu petugas puskesmas memahami tata cara pemeriksaan mata sesuai standar.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan dari berbagai puskesmas diharapkan menjadi lebih seragam, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Laporan hasil pemeriksaan yang dimasukkan oleh petugas puskesmas akan mendapatkan verifikasi dan umpan balik dari Rumah Sakit Mata Bali Mandara.

Berdasarkan umpan balik tersebut, puskesmas dapat mengetahui tindakan yang perlu dilakukan terhadap pasien, termasuk menentukan apakah pasien dapat melanjutkan pemulihan di rumah atau harus segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

ISEE bukan sekadar aplikasi pencatatan, tetapi merupakan platform pengelolaan pelayanan kesehatan mata berbasis teknologi.

Sistem ini dilengkapi dengan formulir evaluasi digital, fasilitas unggah foto kondisi mata, verifikasi oleh dokter spesialis mata, dashboard pemantauan, fitur edukasi, serta penyajian laporan statistik.

Seluruh proses pelaporan, verifikasi klinis, pemberian umpan balik, tindak lanjut pasien, dan analisis Program PGPK disatukan dalam satu sistem yang terkelola.

Dengan sistem tersebut, komunikasi antara puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan Rumah Sakit Mata Bali Mandara sebagai pusat rujukan dapat berlangsung lebih cepat, terarah, dan terdokumentasi.

Memberikan Manfaat Nyata bagi Pasien

Inovasi ISEE telah diuji coba pada pasien yang menjalani operasi katarak melalui layanan Mobile Eye Clinic di Sembung, Bebandem, dan Mengwitani.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan tajam penglihatan hingga hari ketujuh setelah operasi dapat diperoleh pada seluruh pasien yang menjalani operasi.

Selain itu, penggunaan ISEE mendukung proses rujukan yang lebih cepat.

Selama pelaksanaan uji coba, tidak terjadi keterlambatan dalam proses rujukan terhadap pasien yang mengalami komplikasi. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa integrasi pelaporan dan komunikasi melalui ISEE memberikan manfaat langsung terhadap keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.

Dengan tersedianya data secara lebih cepat, dokter spesialis mata dapat segera melakukan verifikasi dan memberikan rekomendasi penanganan.

Puskesmas tidak perlu menunggu proses pelaporan konvensional untuk memperoleh arahan mengenai tindak lanjut pasien.

Kondisi tersebut sangat penting karena keterlambatan penanganan komplikasi pascaoperasi dapat memengaruhi hasil penglihatan pasien.

Bagi masyarakat, ISEE memberikan kepastian bahwa pelayanan tidak berhenti setelah tindakan operasi selesai.

Pasien tetap mendapatkan pemantauan melalui puskesmas terdekat dengan dukungan dan supervisi dari Rumah Sakit Mata Bali Mandara.

Mendukung Transformasi Digital Kesehatan Bali

Secara strategis, ISEE memperkuat peran Rumah Sakit Mata Bali Mandara sebagai pusat rujukan sekaligus pusat pengetahuan atau knowledge hub pelayanan kesehatan mata.

Pada saat yang sama, inovasi ini memperkokoh posisi puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan skrining, pemantauan, dan tindak lanjut pasien di masyarakat.

Pemanfaatan dashboard secara real-time, penerapan standar operasional prosedur, materi edukasi, serta mekanisme umpan balik dari dokter spesialis menciptakan dasar yang kuat bagi pelaksanaan perbaikan mutu secara berkesinambungan.

Data yang dihimpun melalui ISEE juga dapat memberikan gambaran epidemiologi gangguan penglihatan yang lebih akurat.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk memetakan kebutuhan masyarakat, mengevaluasi keberhasilan program, menentukan wilayah prioritas, serta menyusun kebijakan kesehatan mata berbasis bukti atau evidence-based policy.

Dalam pengembangannya, ISEE juga memperhatikan tata kelola klinis, keamanan sistem, dan perlindungan data pasien.

Hal tersebut penting untuk memastikan bahwa transformasi digital pelayanan kesehatan tetap berjalan sesuai dengan standar mutu, etika, keamanan, dan kerahasiaan informasi kesehatan.

Kehadiran ISEE menjadi bagian penting dari transformasi digital pelayanan kesehatan di Provinsi Bali.

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja Rumah Sakit Mata Bali Mandara dan puskesmas, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara pelayanan kesehatan primer dan pelayanan spesialistik.

Melalui ISEE, upaya penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan tidak lagi berjalan secara terpisah, tetapi dilaksanakan melalui jejaring pelayanan yang saling terhubung.

Puskesmas berperan aktif dalam memantau pasien di wilayahnya, sedangkan Rumah Sakit Mata Bali Mandara memberikan supervisi, verifikasi, dan dukungan klinis secara berkesinambungan.

Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, ISEE diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan mata, mempercepat penanganan pasien, memperkuat pengambilan kebijakan berbasis data, serta memberikan kontribusi nyata dalam mencegah kebutaan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Bali.

Ke depan, ISEE berpotensi untuk dikembangkan dan direplikasi sebagai model integrasi pelayanan kesehatan mata antara rumah sakit rujukan dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di berbagai daerah di Indonesia.

 

 





Editor : Rosihan Anwar
RS Mata Bali Mandara