Oleh: Santy Sastra
(Mindset Motivator & Hypnoterapist)
TRAUMA sosial adalah luka batin karena pengalaman buruk dengan orang lain. Diejek, dikhianati, dikucilkan, atau dipermalukan di depan umum.
Akibatnya kita jadi takut ketemu orang. Takut salah bicara. Takut dinilai buruk. Takut masuk ke keramaian.
Banyak orang mengira trauma hanya untuk kejadian besar. Padahal ejekan kecil yang berulang juga bisa jadi trauma.
Ciri-cirinya jantung berdebar saat di tempat ramai. Tangan berkeringat. Ingin menghindar. Lebih memilih diam di rumah.
Kalau dibiarkan, hidup jadi sempit. Kesempatan kerja hilang. Pertemanan menjauh. Rasa percaya diri habis.
Healing atau pemulihan tidak datang tiba-tiba. Harus dimulai dengan langkah kecil dan sadar.
Langkah pertama akui rasa takut itu ada. Jangan dilawan. Katakan dalam hati, saya sedang takut, dan itu wajar.
Langkah kedua tulis kejadiannya. Kapan mulai merasa takut pada orang lain. Apa yang terjadi saat itu. Menulis membantu otak lebih tenang.
Langkah ketiga atur napas. Saat cemas muncul, tarik napas empat detik, tahan dua detik, buang enam detik. Ulangi tiga kali.
Langkah keempat mulai dari lingkungan aman. Ngobrol dengan satu orang yang dipercaya. Tidak perlu langsung ke keramaian.
Langkah kelima kurangi menebak pikiran orang. Tidak semua orang memperhatikan kita. Tidak semua bisikan membicarakan kita.
Langkah keenam batasi media sosial. Komentar jahat di internet bisa menambah luka. Beri jeda dari layar.
Langkah ketujuh rawat tubuh. Tidur cukup, jalan kaki 15 menit, dan minum air putih. Tubuh sehat membantu pikiran pulih.
Proses ini butuh waktu. Kadang hari ini baik, besok takut lagi. Itu normal. Yang penting terus berjalan.
Jika rasa takut sampai membuat sulit tidur, sulit makan, atau ingin menyakiti diri, segera cari bantuan.
Keluar dari trauma sosial bukan berarti jadi paling berani. Tapi berani melangkah sedikit lagi dari kemarin. (ss/han)
Editor : Rosihan Anwar