Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Viral Voice Note "Obat Langka" di RSUD Tabanan, Direktur: Hanya Obat Suplemen, Efek Klaim BPJS Kesehatan Macet

Juliadi Radar Bali • Rabu, 11 Maret 2026 | 12:45 WIB

ilustrasi aktivasi kartu BPJS kesehatan. (gambar digital gemini/radar bali)
ilustrasi aktivasi kartu BPJS kesehatan. (gambar digital gemini/radar bali)

TABANAN, RadarBali.id – Manajemen RSUD Tabanan akhirnya buka suara terkait beredarnya rekaman suara (voice note) berantai yang menyebutkan adanya krisis obat di rumah sakit tersebut.

Dalam rekaman yang viral di grup WhatsApp tersebut, seorang dokter menyebutkan keterbatasan stok obat penunjang terapi stroke, cedera kepala, hingga alzheimer.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Tabanan, dr. Gede Sudiarta, memberikan klarifikasi tegas. Ia memastikan bahwa obat-obatan yang dikabarkan kosong bukanlah obat kategori darurat (emergency).

“Obat yang tidak tersedia itu kategori suplemen atau formularium rumah sakit. Untuk obat emergency atau Fornas (Formularium Nasional) masih tersedia dan aman,” tegas dr. Sudiarta, Senin (10/3/2026).

Klaim BPJS Rp21 Miliar Tersangkut Digitalisasi

Penyebab utama tersendatnya stok obat suplemen ini terungkap: adanya penundaan pencairan klaim BPJS Kesehatan selama tiga bulan (Desember 2025–Februari 2026). Nilai klaim yang tersangkut diperkirakan mencapai Rp7 miliar per bulan, atau total sekitar Rp21 miliar.

Wakil Direktur Manajemen Operasional RSUD Tabanan, Ni Wayan Primayani, menjelaskan kendala ini murni masalah administratif.

"Kami sedang transisi sistem dari manual ke digital. Ada sekitar 9.000 berkas klaim yang harus disesuaikan datanya. Hal ini membuat pengadaan obat ke rekanan sempat terkendala karena sistem keuangan menolak akibat kas yang belum terisi," bebernya.

Dampak pada Pegawai dan Solusi Anggaran

Ketersendatan dana ini tidak hanya berdampak pada obat suplemen, tetapi juga pada kesejahteraan 952 pegawai. Jasa Pelayanan (Jaspel) pegawai untuk bulan Januari dan Februari 2026 dilaporkan belum dapat dibayarkan.

Sebagai solusi jangka pendek, RSUD Tabanan telah melakukan langkah-langkah strategis:

  1. Koordinasi Percepatan: Per 16 Januari 2026, klaim BPJS sudah mulai cair secara bertahap.
  2. Subsidi Pemerintah: Mengajukan bantuan dana subsidi sebesar Rp60 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk menjaga stabilitas operasional dan melunasi utang obat serta Barang Medis Habis Pakai (BMHP) yang mencapai Rp36 miliar.

Pihak manajemen meminta masyarakat tetap tenang karena pelayanan medis dasar dan ketersediaan obat-obatan utama di RSUD Tabanan tetap terjaga dengan baik.[*]

 

Editor : Hari Puspita
#obat langka #bpjs kesehatan #rsud tabanan #klaim bpjs kesehatan